BALITOPIK.COM, DENPASAR – Pembangunan di Bali kembali mendapat sorotan menjelang pelaksanaan penilaian Tri Hita Karana (THK) Awards 2026. Yayasan THK Awards menilai perkembangan pembangunan di Pulau Dewata mulai mengabaikan sejumlah aturan adat dan kearifan lokal yang selama ini menjadi bagian penting identitas Bali.
Ketua Yayasan THK Awards, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, mengatakan kondisi tersebut menjadi alasan pihaknya mengusung tema “Save Bali by Implementing Tri Hita Karana” pada penyelenggaraan THK Awards tahun ke-26.
Menurut dia, pembangunan Bali saat ini telah menyentuh persoalan yang lebih mendasar, termasuk pengabaian terhadap ketentuan adat. Salah satunya berkaitan dengan bhisama mengenai kesucian pura.
“Tujuannya, agar kita eling bahwa kondisi pulau Bali sudah rusak. Tanpa kita sadari, pembangunan di Bali telah melabrak adat dan hukum lokal, seperti bhisama tentang kesucian pura telah diabaikan,” kata Wisnu Wardana, Rabu (9/9/2026).
Ia juga menyinggung rencana peningkatan batas ketinggian bangunan di Bali. Selama ini, keunikan arsitektur dan lanskap Bali antara lain dijaga melalui batas ketinggian bangunan yang berada di bawah pohon kelapa atau sekitar empat lantai.
Namun, menurut Wisnu, batas tersebut mulai dipandang tidak lagi sesuai dengan kepentingan ekonomi.
“Keunikan pulau Bali yang memiliki batas ketinggian di bawah pohon kelapa (empat lantai) dianggap sudah tidak sesuai dengan kebutuhan ekonomi,” ujarnya.
Melalui THK Awards, pihak yayasan memilih mendorong implementasi prinsip Tri Hita Karana melalui program yang dinilai langsung di lapangan. Konsep tersebut juga dikaitkan dengan implementasi Global Code of Ethics for Tourism atau Etika Pariwisata Dunia yang merupakan hasil resolusi PBB bidang kepariwisataan.
Penilaian THK Awards 2026 dijadwalkan mulai Sabtu (12/9). Sebanyak 55 hotel akan mengikuti assessment dengan dukungan 50 assessor yang telah terdaftar.
Hotel pertama yang dijadwalkan menjalani penilaian adalah Wapa di Ume Sidemen, Karangasem. Para hotel peserta diberikan keleluasaan menentukan kesiapan waktu untuk dikunjungi assessor, setelah sebelumnya mengisi kuesioner self-assessment.
Wisnu menyebut program THK Awards telah berjalan selama 25 tahun dan lebih dari 550 hotel di Bali telah menjalani assessment. Dari jumlah tersebut, 14 hotel telah memperoleh penghargaan Lifetime Achievement THK Awards.
Disebutkan, penyelenggaraan tahun ini bukan sekadar memberikan penghargaan kepada industri hotel. Program tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa perkembangan pariwisata Bali perlu tetap berpijak pada adat, lingkungan, dan nilai lokal.
“Kami hanya mampu bersuara lewat program nyata THK Awards,” kata Wisnu. (*)









