BALITOPIK.COM, DENPASAR — Ancaman terhadap kerja jurnalistik di ruang digital kini semakin kompleks. Selain misinformasi dan disinformasi, jurnalis juga menghadapi propaganda serta operasi informasi yang dapat digunakan untuk memengaruhi opini publik.
Kondisi tersebut mendorong Aliansi Jurnalis Independen (AJI) berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Polandia menggelar pelatihan bagi jurnalis di Denpasar. Kegiatan selama dua hari, 29–30 Agustus 2026, diikuti 25 jurnalis dari Bali, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur.
Pelatihan tidak hanya berisi materi teori. Para peserta juga mempraktikkan penggunaan sejumlah sumber terbuka untuk mengenali, menelusuri dan memverifikasi informasi yang berpotensi menyesatkan.
Ketua AJI Kota Denpasar Ni Kadek Novi Febriani mengatakan perkembangan teknologi digital telah memperluas akses masyarakat terhadap informasi. Namun, pada saat yang sama, ruang digital juga membuka celah semakin luas bagi manipulasi informasi.
“Pesatnya perkembangan ruang digital memang memperluas akses informasi, namun di sisi lain juga membuka celah bagi maraknya manipulasi informasi,” kata Febriani.
Menurut dia, manipulasi informasi dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari misinformasi, disinformasi dan propaganda hingga Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI) yang dilakukan aktor tertentu untuk memengaruhi opini publik. Fenomena tersebut kini merambah berbagai isu, termasuk politik, ekonomi, investasi, lingkungan hingga geopolitik.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan jurnalis melakukan verifikasi menjadi semakin penting. Febriani mengakui masih terdapat kesenjangan kapasitas dan perangkat di kalangan profesional media untuk mendeteksi serta memeriksa narasi yang menyesatkan.
Trainer AJI Indonesia Adi Marsiela menilai Bali memiliki posisi strategis dalam persoalan tersebut. Karakter Bali sebagai wilayah yang menjadi pertemuan berbagai masyarakat dan kepentingan membuat informasi dari Bali dapat berkembang menjadi perhatian internasional.
“Bali jadi area melting pot, sehingga apa yang terjadi di Bali bisa jadi informasi internasional,” ujar Adi.
Karena itu, kemampuan jurnalis Bali dalam mengidentifikasi dugaan operasi informasi dinilai penting. Jurnalis tidak cukup hanya menerima pernyataan dari narasumber, tetapi perlu memahami kemungkinan kepentingan di balik informasi yang disampaikan.
“Mereka menjadi tahu cara melakukan identifikasi sehingga tidak menjadi corong narasumber yang memiliki kepentingan tertentu,” kata Adi.
Menurut Adi, materi tersebut juga memiliki manfaat praktis bagi jurnalis, termasuk jurnalis lepas. Peserta diharapkan dapat menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk mengembangkan liputan dengan memanfaatkan isu-isu lokal sebagai bahan penelusuran.
Dengan demikian, isu lokal tidak hanya dilihat dari peristiwa yang sedang ramai, tetapi juga ditelusuri lebih jauh untuk menemukan konteks dan informasi di baliknya.
Trainer AJI Indonesia Nurika Manan menilai Bali memiliki banyak isu yang dapat digunakan untuk mengasah kemampuan tersebut. Sejumlah isu yang muncul dalam pelatihan antara lain persoalan sampah, lingkungan dan politik.
Ia menilai jurnalis selama ini cenderung bekerja dengan mengejar peristiwa atau isu yang sedang naik daun. Padahal, ada kebutuhan untuk menggali lebih dalam mengenai apa yang terjadi di balik sebuah isu.
“Penamaan FIMI dan DIMI merupakan hal yang baru meskipun fenomena ini sudah ada sejak lama,” ujar Nurika.
Ia berharap pelatihan tersebut tidak hanya menambah keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat integritas jurnalis agar tidak menjadi corong pihak yang memiliki kepentingan tertentu.
“Harapannya jurnalis bisa bertahan, berkolaborasi dan melawan,” katanya.
Sementara itu, Diplomat Kedutaan Polandia Sekretaris Pertama bidang Politik dan Ekonomi Ecelino Ionescu berharap pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat bermanfaat dalam kerja jurnalistik para peserta.
Pelatihan tersebut menempatkan kemampuan verifikasi sebagai salah satu benteng penting jurnalisme di tengah derasnya arus informasi digital.
Tantangannya bukan hanya menjadi pihak yang paling cepat menyampaikan informasi. Jurnalis juga harus mampu memastikan informasi yang diterima publik telah melewati proses pemeriksaan dan tidak menjadi bagian dari narasi yang sengaja dibentuk untuk kepentingan tertentu.
Dalam situasi ketika isu lokal dapat dengan cepat menyebar ke ruang informasi yang lebih luas, kemampuan mengenali manipulasi informasi menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas dan independensi pemberitaan. (*)









