• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Gubernur Bali Wayan Koster. -BALITOPIK.COM

Listrik Bali Masih Bergantung Paiton, Koster Kejar Energi Mandiri

2 bulan ago
Gubernur Bali Wayan Koster (kiri) bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri. -BALITOPIK.COM

Koster Ingatkan Menteri ESDM dan Pertamina soal BBM: Apa yang Terjadi di Bali Akan Langsung Mendunia

2 jam ago
Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri (kanan), Menteri ESDM dan Gubernur Bali. -BALITOPIK.COM

Dirut Pertamina Minta Maaf untuk Masyarakat Bali, Janji Tak Akan Ulangi Lagi

3 jam ago
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia didampingi Gubernur Bali dan Dirut Pertamina. -BALITOPIK.COM

Menteri ESDM Ungkap Alasan BBM Langka di Bali: “Kesalahan Teknis Pertamina”

4 jam ago
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia didampingi Gubernur Bali dan Dirut Pertamina. -BALITOPIK.COM

Stok BBM Bali Kembali 11–12 Hari, Menteri ESDM Minta Cadangan Ditingkatkan Jadi 15 Hari

4 jam ago
Nyoman Parta saat bertemu dengan Wayan Suarta di Pura Pasek Gelgel Aan Manikaji, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Bangli.

Enam Tahun Penasaran, Nyoman Parta Akhirnya Bertemu Orang yang Menemukan Dompetnya

10 jam ago
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Jimbaran menggelar Pelatihan Dasar Bartender. -IST

LPM Jimbaran Gelar Pelatihan Dasar Bartender, Libatkan 30 Peserta

1 hari ago
Leo Club Bali Shanti saat membagikan konsumsi kepada warga yang ngantri bensin. -BALITOPIK.COM

Leo Club Bali Shanti dan 30 Relawan Bagikan Konsumsi kepada Warga yang Antre BBM

2 hari ago
Kasatpol PP Provinsi Bali I Dewa Nyoman Rai Dharmadi (tengah belakang) saat mengawal Gubernur Bali Wayan Koster. -BALITOPIK.COM

Dewa Rai Dharmadi kawal Koster pantau distribusi BBM hingga dini hari

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Listrik Bali Masih Bergantung Paiton, Koster Kejar Energi Mandiri

Reporter balitopik.com
31 Agustus 2026 - 6:46 am
Gubernur Bali Wayan Koster. -BALITOPIK.COM

Gubernur Bali Wayan Koster. -BALITOPIK.COM

BALITOPIK.COM,  DENPASAR — Ketahanan listrik Bali masih menghadapi persoalan karena sebagian pasokan energi berasal dari luar daerah. Dari sekitar 1.450 megawatt (MW) kapasitas listrik yang tersedia, sekitar 350 MW masih dipasok dari Paiton, Jawa Timur, melalui kabel bawah laut Jawa-Bali.

Gubernur Bali Wayan Koster menilai kondisi tersebut menunjukkan Bali belum sepenuhnya mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya. Karena itu, pengembangan energi bersih, terutama Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), didorong sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan listrik Bali.

Koster mengungkapkan saat ini kebutuhan listrik Bali telah mencapai sekitar 1.300 MW. Dengan kapasitas tersedia sekitar 1.450 MW, cadangan yang tersisa hanya sekitar 150 MW.

Menurut Koster, margin tersebut masih jauh dari cadangan ideal sistem kelistrikan yang setidaknya mencapai 30 persen dari kebutuhan.

Persoalan menjadi lebih serius karena sekitar 350 MW pasokan Bali berasal dari Paiton. Jika kabel bawah laut Jawa-Bali mengalami gangguan, pasokan listrik dalam jumlah besar dapat langsung hilang dari sistem Bali.

“Kalau itu sampai putus 350 megawatt, Bali langsung gelap,” tegas Koster saat menghadiri puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14 Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia sekaligus HUT ke-1 IWO Provinsi Bali di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Minggu (30/8/2026).

Ia mengatakan pengalaman pemadaman listrik yang berlangsung sekitar 12 jam menjadi pengingat bahwa ketahanan energi tidak cukup dinilai dari apakah listrik masih menyala atau tidak. Bali juga perlu memastikan sumber energi dan jalur pasokannya cukup aman untuk menghadapi gangguan.

“Jangan kita berpikir lampunya nyala. Dari mana nyalanya, latarnya, dan dari jenis energi apa? Itu yang jangan kita lupakan,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, Koster mendorong perubahan struktur energi Bali. Pemerintah daerah tidak ingin kebutuhan listrik terus bergantung pada bahan bakar fosil maupun pasokan dari luar pulau.

Dalam rancangan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), pembangunan pembangkit berbahan bakar gas dengan kapasitas sekitar 200 MW mulai dilakukan pada 2026. Pengembangan tersebut direncanakan berlanjut hingga kapasitas pembangkit mencapai sekitar 1.550 MW paling lambat pada 2032.

Namun, gas ditempatkan sebagai energi transisi. Koster menegaskan Bali tidak membutuhkan tambahan pembangkit berbahan bakar batu bara maupun solar.

Arah pengembangan energi selanjutnya akan lebih banyak bertumpu pada sumber energi terbarukan, antara lain tenaga surya, gelombang laut dan panas bumi.

Potensi energi gelombang laut juga sedang dikaji di Nusa Penida oleh tim Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama perguruan tinggi dari luar negeri. Potensinya disebut sedikitnya mencapai 50 MW, sedangkan kebutuhan listrik Nusa Penida saat ini sekitar 20 MW.

Di antara sejumlah sumber energi terbarukan tersebut, PLTS menjadi salah satu prioritas Koster. Ia mendorong pemasangan panel surya tidak hanya di pembangkit skala besar, tetapi juga di berbagai fasilitas yang menggunakan listrik dalam jumlah besar.

Hotel, mal, restoran, perkantoran, kawasan bisnis hingga rumah tangga didorong untuk memanfaatkan panel surya.

Pengembangan energi surya tersebut sejalan dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih dan berbagai kebijakan turunannya.

Bali sebelumnya memperoleh kuota pengembangan PLTS sekitar 1.000 MW. Dengan kebutuhan lahan sekitar satu hektare untuk setiap MW, pengembangan tersebut membutuhkan sekitar 1.000 hektare lahan.

Koster mendorong agar kebutuhan lahan tersebut tidak mengambil lahan produktif. Lahan kering dan lahan yang tidak produktif diarahkan menjadi lokasi pengembangan pembangkit tenaga surya.

Di Jembrana, sekitar 320 hektare lahan telah disiapkan untuk survei. Lebih dari 700 hektare lainnya masih dalam tahap kajian. Secara keseluruhan, lahan yang ditargetkan dapat dimanfaatkan mencapai sekitar 1.500 hektare.

Dengan ketersediaan lahan tersebut, Koster optimistis kapasitas pengembangan PLTS Bali dapat ditingkatkan hingga sekitar 1.500 MW.

Menurutnya, tenaga surya memiliki keunggulan strategis karena sumber energinya tersedia secara alami dan tidak bergantung pada pasokan bahan bakar dari luar Bali maupun luar negeri.

“Kalau kita full menggunakan PLTS, itu artinya energi yang tidak bisa dikontrol oleh siapa pun, baik terkait politik maupun hal-hal yang lain,” kata Koster.

Ia menilai ketergantungan terhadap minyak dan batu bara memiliki risiko yang lebih besar karena harga dan distribusinya dapat dipengaruhi kondisi geopolitik global. Sebaliknya, energi matahari dapat diperoleh langsung dari sumber yang tersedia di Bali.

Persoalan ketahanan energi juga tidak bisa dipisahkan dari ekonomi Bali. Sebagai destinasi pariwisata internasional, kebutuhan listrik tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga hotel, restoran, pusat perbelanjaan, kawasan bisnis dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Gangguan listrik dalam skala besar dapat mengganggu operasional sektor pariwisata sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kalau sampai mati listrik, hotel juga komplain. Ini makanya saya mengambil posisi sejak awal, Bali harus mandiri energi dan dengan energi bersih,” ujar Koster.

Karena itu, menurut Koster, transisi energi harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Pembangunan pembangkit energi bersih tidak akan cukup jika pemanfaatannya di tingkat pengguna tidak ikut berkembang.

Pemerintah, pelaku usaha, hotel, mal, restoran, kawasan bisnis hingga rumah tangga didorong mengambil bagian melalui pemanfaatan PLTS.

Koster menilai kemandirian energi bukan hanya agenda untuk memenuhi kebutuhan listrik saat ini. Kebijakan tersebut juga menentukan seberapa siap Bali menghadapi kebutuhan energi dan risiko pasokan pada masa mendatang.

“Bali ini tidak saja untuk hidup hari ini, tapi hidup ke depan,” kata Koster.

Ia meminta persoalan energi dikomunikasikan secara lebih serius kepada masyarakat. Publik, menurutnya, perlu memahami bukan hanya apakah listrik tersedia, tetapi juga dari mana listrik tersebut berasal, risiko yang menyertainya dan bagaimana Bali menyiapkan sumber energi untuk kebutuhan jangka panjang. (*)

Tags: BaliEnergi BersihEnergi FosilEnergi TerbarukanJembranaKetahanan EnergiListrik BaliNusa PenidaPaitonPLTSWayan Koster
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Koster Ingatkan Menteri ESDM dan Pertamina soal BBM: Apa yang Terjadi di Bali Akan Langsung Mendunia
  • Dirut Pertamina Minta Maaf untuk Masyarakat Bali, Janji Tak Akan Ulangi Lagi
  • Menteri ESDM Ungkap Alasan BBM Langka di Bali: “Kesalahan Teknis Pertamina”
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist