• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Ilustrasi siswa SMK Kolese De Brito

De Britto, Sekolah yang Biarkan Murid Gondrong Tapi Menuntut Mereka Tanggung Jawab

1 jam ago
Petugas Imigrasi saat melakukan Patroli Dharma Dewata. -IST

Patroli Dharma Dewata, Imigrasi Bali Jaring 66 WNA Nakal dari 27 Negara

12 menit ago
Suasana festival KutaKIta

85 Perusahaan F&B dan Ribuan Pelaku Industri Padati Kuta, Semangat Kebangkitan KutaKita Menguat

4 jam ago
Ilustrasi jurnal “Penyelesaian Sengketa Tanah Waris antara Ahli Waris yang Beralih Agama dengan yang Beragama Hindu di Desa Adat Padang Luwih Perspektif Pluralisme Hukum”. -IST

Jurnal Sengketa Tanah Dipersoalkan, Penulis Akui Ada Kekeliruan dan Minta Maaf

20 jam ago
Gubernur Bali, Wayan Koster. -BALITOPIK.COM

Koster Dorong Bartender Muda Bali Naik Kelas

1 hari ago
Potret sejumlah anak-anak membaca buku yang dipajang oleh AJI Denpasar di lapangan Renon. -IST

HUT ke-32 AJI Denpasar, “Piknik Waras” Soroti Krisis Ekologi dan Nalar Kritis di Bali

1 hari ago
Penampilan sejumlah musisi pada peNUTUPAN Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026. -IST

UVJF 2026 Resmi Berakhir, Jazz Ubud Tutup dengan Kolaborasi Lintas Generasi dan Negara

2 hari ago
Potret Gubernur Bali Wayan Koster berpose dengan sejumlah anak di Kawasan Sidewalk Pulau Peninsula The Nusa Dua, Badung. -IST

Koster Dorong Nusa Dua Eco Market Jadi Ruang Hidup Pariwisata dan Penggerak UMKM

2 hari ago
Suasana QRIS Bali Summer Run 2026 di Renon. IST

QRIS Bali Summer Run 2026, Bank BPD Bali Dorong Transaksi Digital

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

De Britto, Sekolah yang Biarkan Murid Gondrong Tapi Menuntut Mereka Tanggung Jawab

Reporter balitopik.com
11 Agustus 2026 - 6:27 am
Ilustrasi siswa SMK Kolese De Brito

Ilustrasi siswa SMK Kolese De Brito

BALITOPIK.COM, YOGYAKARTA — Ada sekolah yang mengukur kedisiplinan dari panjang pendek rambut. Ada pula sekolah yang menganggap seragam sebagai bagian penting dari identitas murid. Namun di tengah dunia pendidikan yang lazim dengan aturan penampilan, ada satu sekolah di Yogyakarta yang justru mengambil jalan berbeda.

Di SMA Kolese De Britto, murid laki-laki dapat tampil dengan rambut gondrong. Mereka juga dikenal tidak menggunakan seragam sekolah seperti kebanyakan siswa SMA pada umumnya. Penampilan eksentrik bukan sesuatu yang otomatis dianggap sebagai pelanggaran.

Sekilas, De Britto atau yang akrab disebut JB seperti sekolah yang memberikan keleluasaan hampir tanpa batas. Namun justru di situlah letak keunikannya.

Kebebasan di De Britto bukan dimaksudkan sebagai kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan yang harus selalu berjalan bersama tanggung jawab. Prinsip inilah yang selama puluhan tahun menjadi salah satu identitas paling kuat SMA Kolese De Britto.

Dan di balik rambut gondrong serta penampilan para siswanya, tersimpan sejarah panjang pendidikan yang telah berlangsung sejak Indonesia masih berusia sangat muda.

SMA Kolese De Britto berdiri pada 19 Agustus 1948. Pada awalnya, sekolah ini bukan bernama De Britto, melainkan SMA Kanisius. Sekolah tersebut didirikan dalam konteks pendidikan Katolik oleh Ordo Serikat Yesuit pascakemerdekaan Indonesia.

Perjalanan awal sekolah ini tidak berlangsung mulus. Agresi Militer Belanda membuat kegiatan sekolah harus terhenti. Setelah situasi mulai memungkinkan, kegiatan pendidikan kembali dibangun.

Bagian putri dibuka pada Agustus 1949, sedangkan bagian putra menyusul pada Oktober tahun yang sama. Dalam perkembangannya, bagian putra kemudian dikenal sebagai De Britto, sementara bagian putri berkembang menjadi Stella Duce.

Perubahan tersebut menjadi salah satu akar sejarah penting yang menjelaskan mengapa De Britto hingga kini dikenal sebagai sekolah khusus laki-laki.

Sekolah kemudian berkembang dan akhirnya menempati kampus di Jalan Laksda Adisucipto Nomor 161, Caturtunggal, Depok, Sleman. Gedung di kawasan Demangan Baru mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada 1958.

Dari sebuah sekolah yang lahir di tengah pergolakan awal republik, De Britto kemudian tumbuh menjadi salah satu lembaga pendidikan yang memiliki karakter sangat khas di Yogyakarta.

Nama De Britto sendiri merujuk pada Santo Yohanes De Britto, seorang imam Yesuit asal Portugal yang dikenal karena pengabdiannya. Spirit pendidikan Yesuit kemudian menjadi salah satu fondasi penting sekolah.

Karena itu, pendidikan di De Britto tidak semata-mata diarahkan untuk membuat siswa mendapatkan nilai akademik tinggi. Ada cita-cita yang lebih besar yaitu membentuk manusia yang cakap sekaligus memiliki hati nurani dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam visi resminya, De Britto menempatkan pendidikan sebagai jalan untuk membentuk pemimpin pengabdi. Para siswa diarahkan menjadi pribadi yang cakap, berhati nurani benar, berbela rasa, berkomitmen dan konsisten. Pendidikan juga diarahkan agar siswa mampu menjadi pribadi yang interkulturatif, kolaboratif dan inovatif.

Di sinilah konsep “bebas bertanggung jawab” mendapatkan maknanya.

Kebebasan bukan sekadar soal rambut.

Rambut gondrong memang menjadi simbol paling mudah dikenali dari De Britto. Tetapi bagi sekolah, persoalan yang jauh lebih penting adalah apakah seorang siswa mampu bertanggung jawab terhadap pilihannya.

Karena itu, seorang siswa boleh berpenampilan berbeda, tetapi ia tetap dituntut mengikuti proses pembelajaran, menghargai orang lain, menyelesaikan tugas, menaati kesepakatan bersama dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari tindakannya.

Dengan kata lain, De Britto mencoba menggeser pusat perhatian dari “bagaimana siswa terlihat” menjadi “bagaimana siswa bertumbuh.”

Prinsip itu pula yang membuat suasana sekolah De Britto sering terlihat berbeda dibandingkan sekolah lain.

Siswa bisa datang dengan rambut panjang, gaya berpakaian yang beragam dan ekspresi personal yang kuat. Namun pada saat yang sama, sekolah memiliki proses pendidikan karakter yang cukup intensif.

Salah satu tradisi yang menjadi bagian dari pendidikan tersebut adalah refleksi atau examen. Tradisi ini berakar dari spiritualitas Ignatian dan digunakan sebagai ruang bagi siswa untuk melihat kembali pengalaman, keputusan, sikap dan proses perkembangan dirinya.

Menariknya, tradisi refleksi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan keagamaan. Dalam kehidupan akademik, refleksi juga menjadi bagian dari cara siswa memahami pengalaman.

Penelitian yang dilakukan siswa De Britto pada 2025, misalnya, mengkaji hubungan antara aktivitas Examen Conscientiae dengan refleksi yang muncul dalam film Budi Pekerti karya alumni De Britto, Wregas Bhanuteja. Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana tradisi refleksi di sekolah dapat dikaitkan dengan pembentukan karakter, pengendalian emosi, ketangguhan dan evaluasi diri.

Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa laboratorium pendidikan De Britto bukan hanya ruang kelas.

Siswa juga didorong untuk melakukan penelitian terhadap lingkungan di sekitarnya.

Buktinya dapat dilihat dari banyaknya karya ilmiah siswa yang terdokumentasi dalam repositori sekolah. Pada tahun ajaran 2024/2025 saja, terdapat lebih dari seratus karya yang mencakup berbagai persoalan, mulai dari lingkungan, kesehatan, perilaku remaja, teknologi, pariwisata hingga kehidupan sosial.

Ada siswa yang meneliti pemanfaatan maggot untuk penguraian sampah organik. Ada yang mengkaji kualitas air pertanian di Caturtunggal. Ada pula yang meneliti pemanfaatan rainwater harvesting untuk mengatasi persoalan air bersih.

Bahkan ada penelitian mengenai pemanfaatan Instagram sebagai media pembelajaran tutor sebaya.

Hal tersebut memberikan gambaran menarik; kebebasan di De Britto tidak hanya diterjemahkan dalam gaya rambut atau cara berpakaian, tetapi juga dalam keberanian siswa memilih persoalan yang ingin mereka pelajari.

Pada titik ini, De Britto seperti sedang mengatakan bahwa sekolah bukan sekadar tempat untuk menerima jawaban dari guru. Sekolah juga merupakan tempat untuk belajar mengajukan pertanyaan.

Dan tradisi itu berjalan beriringan dengan pencapaian akademik.

Dalam pemeringkatan Top 1000 Sekolah berdasarkan nilai UTBK 2022 yang dirilis LTMPT, SMA Kolese De Britto menempati peringkat ke-51 nasional dengan skor 594,617. Di tingkat DIY, sekolah ini berada di peringkat kesembilan dan menjadi sekolah swasta dengan posisi tertinggi dalam daftar tersebut.

Rekam tersebut juga memperlihatkan peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Data yang dikutip dari pemeringkatan LTMPT menunjukkan De Britto berada di peringkat 193 nasional pada 2020, kemudian naik ke peringkat 51 pada pemeringkatan 2022.

Artinya, sekolah yang dari luar tampak “bebas” itu tetap mampu mempertahankan tradisi akademik yang kuat.

Namun prestasi De Britto tidak hanya datang dari ruang ujian.

Pada 2025, misalnya, siswa De Britto meraih Juara I Taekwondo Walikota Cup 2025 kategori U-63 Junior Prestasi melalui Nathaniel Shawn Tjiam. Pada tahun yang sama, kelompok siswa Yabesio Gilar Sambudi, Vincentius Hargo Kuncoro dan Christopher Raditya Purwanto meraih Honorable Mention dalam Science Project Competition pada Pre-Event OGG FITB ITB 2025.

Prestasi tersebut menunjukkan karakter lain dari pendidikan De Britto: keberhasilan tidak harus datang dari satu jalur.

Ada siswa yang menonjol di bidang akademik. Ada yang berkembang di olahraga. Ada yang menemukan jalan melalui sains, seni, musik, teknologi maupun bidang kreatif.

Tradisi tersebut juga tercermin dari para alumninya yang telah berkiprah dalam berbagai bidang.

Ketika sekolah memasuki usia 75 tahun pada 2023, keluarga besar De Britto menggelar Lustrum XV dengan tema “Fiat Lux: Jadilah Terang.” Perayaan tersebut tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga bakti sosial, seminar nasional pendidikan, De Britto International Youth Camp, JB Cup dalam bidang olahraga, sains dan musik, serta penyusunan buku sejarah dan buku refleksi komunitas De Britto.

Usia 75 tahun itu sekaligus menjadi pengingat bahwa De Britto telah melewati berbagai generasi.

Dari zaman ketika Indonesia baru merdeka, perubahan sosial-politik, pergantian kurikulum, perkembangan teknologi hingga pandemi COVID-19, sekolah terus beradaptasi.

Kini, tantangan pendidikan juga berubah. Anak-anak muda hidup dalam dunia yang jauh lebih cepat, terbuka dan kompleks. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Teknologi kecerdasan buatan mulai memasuki ruang pendidikan. Media sosial membentuk cara generasi muda berkomunikasi dan memandang dirinya.

Dalam situasi seperti itu, konsep pendidikan De Britto tentang kebebasan dan tanggung jawab justru menjadi semakin relevan.

Sebab tantangan terbesar generasi muda bukan lagi sekadar mendapatkan informasi, tetapi menentukan apa yang harus dilakukan dengan informasi tersebut.

Bukan sekadar memiliki kebebasan berbicara, tetapi memahami konsekuensi dari apa yang diucapkan.

Bukan sekadar berani berbeda, tetapi mampu mempertanggungjawabkan pilihan. Dan bukan sekadar menjadi pintar, tetapi mampu menggunakan kepintaran itu untuk sesuatu yang berguna bagi orang lain.

Itulah yang ingin dibangun melalui konsep pemimpin pengabdi.

De Britto juga terus mengembangkan fasilitas dan ekosistem pendidikannya. Salah satu rencana terbaru adalah pembangunan Gedung Dasawindu yang dirancang sebagai ruang belajar yang ramah iklim, adaptif terhadap teknologi dan mendukung daya cipta sekaligus kepekaan sosial.

Yayasan De Britto menyebut pembangunan tersebut sebagai bagian dari komitmen melanjutkan pendidikan yang membentuk pribadi muda yang cakap, berhati nurani, peduli, berkomitmen dan konsisten.

Jika melihat perjalanan panjangnya, ada satu paradoks menarik dari SMA Kolese De Britto. Sekolah ini mungkin dikenal masyarakat luas karena rambut gondrong.

Tetapi rambut gondrong sebenarnya hanyalah bagian paling luar dari sebuah filosofi pendidikan yang jauh lebih dalam.

Di balik penampilan yang tampak bebas, terdapat tuntutan tanggung jawab.

Di balik gaya yang terlihat santai, ada disiplin akademik.

Di balik kebebasan berpendapat, ada proses refleksi.

Dan di balik ruang kelas, ada dorongan agar siswa berani melihat persoalan di sekitarnya, menelitinya, lalu mencoba menemukan jalan keluar.

Karena itu, memahami De Britto hanya dari rambut gondrong para siswanya tentu tidak akan pernah cukup.

De Britto adalah cerita tentang bagaimana sebuah sekolah mencoba mendidik manusia agar tidak sekadar patuh karena takut pada aturan, tetapi mampu bertindak benar karena memahami alasan di balik pilihannya.

Sejak 1948 hingga hari ini, sekolah tersebut telah melewati lebih dari tujuh dekade perubahan zaman. Prestasi akademik, prestasi olahraga, karya ilmiah, kiprah alumni hingga berbagai kegiatan sosial menjadi bagian dari perjalanan itu.

Pada akhirnya, De Britto bukan sekadar tentang rambut gondrong, seragam yang berbeda, atau kebebasan yang kerap menjadi bahan perbincangan. Lebih dari itu, sekolah ini adalah perjalanan panjang tentang bagaimana seorang anak muda belajar mengenal dirinya, berani menentukan pilihan, sekaligus siap menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut.

Sebab kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan melahirkan kekacauan. Tetapi kebebasan yang dibentuk melalui pendidikan, refleksi dan keberanian untuk peduli, dapat melahirkan manusia yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri. (*)

Tags: alumni De Brittobebas bertanggung jawabDe Britto Yogyakartafakta unik De BrittoKolese De BrittoPendidikan Karakterpendidikan Yogyakartaprestasi De Brittosejarah De Brittosekolah di Yogyakartasekolah Katoliksekolah pria Yogyakartasekolah terbaik YogyakartaSMA De BrittoSMA Kolese De Britto
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Patroli Dharma Dewata, Imigrasi Bali Jaring 66 WNA Nakal dari 27 Negara
  • De Britto, Sekolah yang Biarkan Murid Gondrong Tapi Menuntut Mereka Tanggung Jawab
  • 85 Perusahaan F&B dan Ribuan Pelaku Industri Padati Kuta, Semangat Kebangkitan KutaKita Menguat
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?