• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Founder Mahardhika Institute I Putu Eka Mahardhika, S.IP., M.AP. yang akrab disapa Jro Eka saat menjadi narasumber. -BALITOPIK.COM

Finalis GenRe Bali 2026 Dibekali Gagasan Ngempu Bali, Jro Eka: Jangan Sampai Jadi Tamu di Tanah Sendiri

2 bulan ago
Gubernur Bali Wayan Koster Saat Pidato Dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD Provinsi Bali dalam rangka HUT ke-68 Provinsi Bali, Jumat (14/8/2026). -BALITOPIK.COM

HUT 68, Pidato 1 Jam Koster soal Hasil, Progres dan Rencana Pembangunan Bali

2 jam ago
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa. -BALITOPIK.COM

Pertama dalam Sejarah Badung, Belanja Infrastruktur Tembus 59,8 Persen

17 jam ago
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa (kiri) dan Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti. -BALITOPIK.COM

DPRD Badung Setujui Perubahan KUA-PPAS 2026

19 jam ago
Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti. -BALITOPIK.COM

Anggaran Infrastruktur Badung Naik Jadi 59,80 Persen, DPRD Ingatkan Kemampuan Fiskal

19 jam ago
Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka Country to Country Capture The Flag (C2C-CTF) 2026 di Padma Resort Legian Kuta, Badung, Selasa (11/8/2026). -IST

Koster Buka Kompetisi Keamanan Siber 13 Negara di Bali

2 hari ago
Endang Hastuty Bunga, S.H.

Rp25 Miliar untuk Sebuah Pemberitaan: Ketika Hak Menggugat Berhadapan Dengan Kemerdekaan Pers

2 hari ago
Perjanjian Kerja Sama antara PT Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali) dengan Kejaksaan Tinggi Bali. -IST

Bank BPD Bali dan Kejati Bali Perkuat Sinergi Hukum untuk Tata Kelola Perusahaan

2 hari ago
Servasius Bambang Pranoto alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta angkatan tahun 73. -IST

Bebas Bertanggung Jawab, Prinsip De Britto yang Membekas pada Babe Bambang Pranoto

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Finalis GenRe Bali 2026 Dibekali Gagasan Ngempu Bali, Jro Eka: Jangan Sampai Jadi Tamu di Tanah Sendiri

Reporter balitopik.com
21 Juni 2026 - 9:27 am
Founder Mahardhika Institute I Putu Eka Mahardhika, S.IP., M.AP. yang akrab disapa Jro Eka saat menjadi narasumber. -BALITOPIK.COM

Founder Mahardhika Institute I Putu Eka Mahardhika, S.IP., M.AP. yang akrab disapa Jro Eka saat menjadi narasumber. -BALITOPIK.COM

BALITOPIK.COM, DENPASAR – Finalis Duta Generasi Berencana (GenRe) Provinsi Bali 2026 mendapat pembekalan khusus tentang gagasan Ngempu Bali dalam kegiatan capacity building bertema Ngempu Bali & Bangga Kencana di Kantor BKKBN Provinsi Bali, Denpasar, Minggu (21/6/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 Wita itu menjadi bagian dari rangkaian Pra Karantina 1 ADUJAK GenRe Bali 2026. Dalam forum tersebut, para finalis dibekali perspektif tentang peran generasi muda dalam menjaga masa depan Bali, tidak hanya dari sisi kependudukan dan pembangunan keluarga, tetapi juga dalam konteks budaya, lingkungan, dan keberlanjutan pulau ini.

Dua narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Founder Mahardhika Institute I Putu Eka Mahardhika, S.IP., M.AP. yang akrab disapa Jro Eka, serta Ketua Tim Kerja Pembangunan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN Bali Billy Udiang S.

Dalam pemaparannya, Jro Eka menekankan bahwa Ngempu Bali tidak boleh berhenti sebagai slogan seremonial. Menurutnya, gagasan itu harus dipahami sebagai cara pandang, cara bekerja, sekaligus tanggung jawab moral generasi muda Bali terhadap tanah kelahirannya.

“Bagi saya, Ngempu Bali bukan sekadar slogan. Ia adalah cara pandang, cara bekerja, sekaligus tanggung jawab moral terhadap pulau kecil yang hari ini kita sebut rumah,” kata Jro Eka di hadapan para finalis GenRe Bali 2026.

Ia menjelaskan, gagasan Ngempu Bali lahir dari kegelisahan atas berbagai persoalan yang kini dihadapi Bali, mulai dari tekanan pariwisata, alih fungsi lahan, persoalan sampah, kemacetan, kesenjangan ekonomi, hingga mulai terputusnya pengetahuan generasi muda terhadap akar budaya dan warisan leluhur.

Menurutnya, anak muda Bali tidak cukup hanya merasa bangga terhadap identitas, budaya, dan alam Bali. Kebanggaan itu, kata dia, harus diikuti pengetahuan, kapasitas, keberanian, dan kesediaan untuk turun langsung mengerjakan persoalan di lapangan.

“Jangan sampai kita hanya numpang hidup di tanah sendiri,” ujarnya.

Jro Eka menilai masyarakat Bali selama ini dikenal ramah menyambut tamu, namun keramahan itu tidak boleh membuat orang Bali kehilangan posisi sebagai tuan rumah di tanahnya sendiri. Ia mengibaratkan orang Bali kerap berdiri di depan pintu menyambut wisatawan dengan senyum, tetapi setelah tamu masuk, justru lupa kembali mengambil peran sebagai pemilik rumah yang memahami arah, aturan, dan masa depan rumahnya sendiri.

“Ini soal reposisi. Soal positioning orang Bali di tanahnya sendiri,” katanya.

Ia menjelaskan, Ngempu Bali berdiri di atas tiga fondasi utama, yakni ngempu alam, ngempu manusia, dan ngempu budaya Bali. Ngempu alam berarti merawat tanah, air, hutan, laut, sungai, dan seluruh ekosistem Bali. Ngempu manusia berarti memastikan masyarakat Bali tidak tertinggal dan tidak tersingkir di tanahnya sendiri. Sementara ngempu budaya berarti menjaga nilai, tradisi, pengetahuan, dan identitas Bali agar tetap hidup sebagai kekuatan masa depan.

Dalam kesempatan itu, Jro Eka juga menyoroti pentingnya membaca ulang pengetahuan lokal Bali, seperti subak, lontar, telajakan, teba, pola ruang desa, hingga hubungan masyarakat Bali dengan air, tanah, rumah, dan pura. Menurutnya, konsep-konsep tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan menyimpan pengetahuan penting tentang ekologi, tata ruang, keberlanjutan, dan kehidupan sosial.

“Lontar jangan hanya dipandang sebagai benda tua. Lontar adalah aset pengetahuan. Jika hari ini buku adalah sumber pengetahuan, maka di masa lalu lontar adalah perpustakaan peradaban,” ujarnya.

Ia menilai, banyak pengetahuan Bali yang dapat dibaca ulang, diteliti, dan dikembangkan untuk menjawab persoalan hari ini, termasuk di bidang pertanian, pengobatan tradisional, arsitektur lokal, tata air, hingga pengelolaan ruang hidup.

Jro Eka juga mengingatkan bahwa persoalan Bali tidak bisa diselesaikan hanya dengan pidato atau seremoni. Ia mencontohkan kegiatan penanaman pohon yang kerap berhenti pada seremoni tanpa memastikan pohon itu dirawat hingga tumbuh.

“Ngempu berarti memastikan sesuatu benar-benar tumbuh sampai ia kuat berdiri. Bukan hanya datang, menanam, berfoto, lalu selesai,” katanya.

Saat ini, kata dia, Mahardhika Institute tengah menjalankan sejumlah pendampingan masyarakat di beberapa wilayah di Bali, seperti Jembrana, Buleleng, Sumberklampok, dan Pejarakan. Pendampingan itu meliputi kerja-kerja konservasi, pertanian, advokasi tanah, penguatan masyarakat, hingga pemulihan ruang hidup.

Ia juga menyinggung program konservasi mangrove seluas sekitar 14,2 hektare yang dirancang sebagai kerja jangka panjang bersama masyarakat. Menurutnya, pemulihan ekosistem tidak bisa dilakukan dengan pola proyek sesaat.

“Ekosistem tidak bisa dipulihkan dengan mental acara. Ia butuh konsistensi,” tegasnya.

Kepada para finalis Duta GenRe Bali 2026, Jro Eka berpesan agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton perubahan. Ia mendorong anak muda Bali membangun kapasitas diri, memahami potensi wilayahnya, mengenali akar budayanya, dan mengambil peran konkret dalam merawat masa depan Bali.

Menurutnya, generasi berencana tidak hanya berbicara tentang masa depan yang ideal, tetapi juga harus memiliki strategi, pengetahuan, dan keberanian untuk menentukan posisi serta ikut bekerja menyelesaikan persoalan.

“Ngempu Bali adalah cara untuk memastikan bahwa alam Bali tidak hanya diwarisi, tetapi dirawat. Manusia Bali tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku. Budaya Bali tidak hanya dipajang, tetapi dihidupkan. Dan masa depan Bali tidak hanya dibicarakan, tetapi dikerjakan bersama,” kata Jro Eka.

Ia menegaskan, tugas generasi muda Bali hari ini bukan sekadar mencintai Bali, melainkan memastikan Bali tetap memiliki masa depan.

“Bukan sekadar mencintai Bali, tetapi memastikan Bali tetap memiliki masa depan,” ujarnya.

Kegiatan capacity building ini menjadi ruang pembekalan penting bagi finalis Duta GenRe Bali 2026 sebelum memasuki tahapan karantina. Melalui tema Ngempu Bali & Bangga Kencana, para peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih kuat tentang peran remaja dalam pembangunan keluarga, kependudukan, kebudayaan, dan keberlanjutan Bali di tengah tantangan zaman yang terus berkembang. (*)

Tags: anak muda BaliBangga KencanaBerita BaliBKKBN BaliBudaya BaliDenpasarDuta GenRe BaliFinalis GenRe Bali 2026Generasi Muda BaliGenRe BaliJro Ekakonservasi BaliMahardhika InstituteNgempu Balipembangunan keluarga
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • HUT 68, Pidato 1 Jam Koster soal Hasil, Progres dan Rencana Pembangunan Bali
  • Pertama dalam Sejarah Badung, Belanja Infrastruktur Tembus 59,8 Persen
  • DPRD Badung Setujui Perubahan KUA-PPAS 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?