BALITOPIK.COM, BADUNG — Pemerintah Kabupaten Badung terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis teknologi. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menguji kapasitas mesin Refuse Derived Fuel (RDF) di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Mengwitani, Selasa (18/8/2026).
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengatakan, saat ini TPST Mengwitani telah memiliki satu unit mesin RDF dengan kapasitas pengolahan mencapai 100 ton sampah per hari.
Pemkab Badung juga menyiapkan tambahan dua unit mesin RDF dengan kapasitas masing-masing 100 ton per hari. Jika seluruh mesin beroperasi sesuai kapasitas, total kemampuan pengolahan RDF di TPST Mengwitani ditargetkan mencapai 300 ton per hari.
“Sementara ini untuk baru tersedia 1 mesin RDF dengan kapasitas 100 ton per hari. Dan kita rencananya juga akan menyiapkan lagi dua mesin dengan kapasitas masing-masing 100, sehingga totalnya ada 300 ton/per hari,” jelas Bupati Badung.
Pernyataan tersebut disampaikan Adi Arnawa setelah meninjau pengoperasian mesin RDF. Dalam peninjauan itu, ia didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung Made Rai Warastuthi beserta jajaran terkait.
Menurut Adi Arnawa, pengoperasian satu unit mesin RDF berkapasitas 100 ton per hari telah memberikan perubahan signifikan dalam penanganan sampah di Kabupaten Badung.
Ia berharap penambahan dua unit mesin RDF yang saat ini masih dalam tahap uji coba dapat semakin memperkuat kapasitas pengelolaan sampah. Dengan demikian, persoalan sampah di Badung diharapkan dapat ditangani secara lebih optimal.
“Kelihatannya dari satu mesin ini yang berkapasitas 100 ton saja sudah terjadi perubahan yang sangat signifikan, terutama dalam penanganan sampah yang ada di Badung. Mudah-mudahan dengan penambahan dua mesin lagi yang sedang dicoba, persoalan sampah di Badung benar-benar bisa tuntas,” ujarnya.
Meski mengandalkan teknologi RDF, Adi Arnawa menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak dapat sepenuhnya bergantung pada mesin. Peran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumber tetap menjadi bagian penting.
Ia mengimbau masyarakat agar konsisten melakukan pemilahan sampah mulai dari rumah tangga. Menurutnya, sampah yang telah dipilah sejak sumber akan membuat proses pengolahan di hilir berlangsung lebih cepat dan efektif.
“Kalau sampah itu dipilah dari sumber, jauh akan lebih cepat dan lebih efektif. Walaupun kita sudah memiliki mesin seperti sekarang ini, saya tetap berharap dukungan masyarakat itu penting. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa tergantung dengan mesin saja, tetapi dukungan dan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan serta memilah sampah sangat diperlukan,” kata Adi Arnawa.
Ia menambahkan, partisipasi masyarakat akan semakin menentukan efektivitas mesin-mesin pengolahan sampah yang disiapkan Pemkab Badung.
“Kalau ini sudah dilakukan masing-masing masyarakat, saya kira akan jauh lebih efektif mesin-mesin yang akan kita persiapkan,” tutupnya.
Dengan pengoperasian satu unit RDF dan rencana penambahan dua unit lainnya, Pemkab Badung menargetkan kapasitas pengolahan sampah melalui teknologi tersebut dapat mencapai 300 ton per hari.
Namun, pemerintah tetap menekankan pentingnya pemilahan sampah dari sumber sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. (*)









