BALITOPIK.COM, BADUNG — Derasnya arus informasi di era digital membuat kemampuan memilah, memahami, dan mengevaluasi informasi menjadi semakin penting. Menjawab tantangan tersebut, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskerpus) Kabupaten Badung menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi bagi pustakawan, guru, dan pegiat literasi Kabupaten Badung, Senin (10/8/2026).
Kegiatan yang mendapat dukungan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bidang Perpustakaan tersebut berlangsung di Gedung Layanan Baca Sastra Mangutama, Diskerpus Badung.
Bimtek dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Badung, Luh Suryaniti, S.Sos., M.Si., yang hadir mewakili Bupati Badung.
Dalam sambutan tertulis Bupati Badung yang dibacakan Luh Suryaniti, Pemerintah Kabupaten Badung menyampaikan apresiasi kepada Diskerpus Badung dan Perpusnas RI atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Badung, saya menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung atas penyelenggaraan kegiatan ini, serta kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atas dukungannya melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bidang Perpustakaan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Bupati Badung menilai kemajuan teknologi informasi telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh berbagai informasi. Namun, kemudahan tersebut juga diikuti tantangan karena tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan.
“Perkembangan teknologi informasi telah memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai informasi. Namun, tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, literasi informasi menjadi kemampuan yang sangat penting agar masyarakat mampu menemukan, memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijaksana,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, pustakawan, guru, dan pegiat literasi dinilai memiliki posisi strategis. Mereka tidak hanya berperan dalam mendorong budaya membaca, tetapi juga membantu masyarakat membangun kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan kecakapan dalam mengelola informasi.
“Dalam upaya tersebut, pustakawan, guru, dan pegiat literasi memiliki peran strategis sebagai penggerak budaya membaca, penumbuh kemampuan berpikir kritis, serta pendamping masyarakat dalam meningkatkan kecakapan literasi,” ujarnya.
Pemkab Badung, lanjutnya, akan terus mendorong penguatan literasi sebagai salah satu fondasi untuk membangun masyarakat yang cerdas, kreatif, dan memiliki daya saing.
Karena itu, Bimtek Literasi Informasi diharapkan tidak berhenti pada penambahan pengetahuan peserta. Kegiatan tersebut juga diharapkan mendorong munculnya inovasi dalam layanan perpustakaan maupun kegiatan literasi yang semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat di tengah perkembangan teknologi.
“Saya berharap melalui bimbingan teknis ini, para peserta tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi layanan perpustakaan dan literasi yang lebih inklusif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di era digital,” katanya.
Sementara itu, Plt. Kepala Diskerpus Badung, Ida Ayu Yutri Indahgustari, SE., MM., mengatakan kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam menjalankan perannya sebagai fasilitator pembelajaran di tengah masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap para pustakawan, guru, dan pegiat literasi semakin mampu menjadi fasilitator pembelajaran di tengah masyarakat,” katanya.
Menurutnya, Bimtek Literasi Informasi juga menjadi ruang untuk meningkatkan kompetensi, bertukar pengalaman, serta memperluas jejaring antarpegiat literasi.
“Bimbingan teknis ini juga menjadi wadah untuk meningkatkan kompetensi, berbagi pengalaman, memperluas jejaring, serta melahirkan berbagai inovasi layanan perpustakaan dan kegiatan literasi yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Penguatan kemampuan literasi informasi tersebut diharapkan dapat membuat pustakawan, guru, dan pegiat literasi semakin siap mendampingi masyarakat menghadapi derasnya arus informasi digital.
Dengan kemampuan menemukan, memahami, memeriksa, dan menggunakan informasi secara tepat, masyarakat diharapkan tidak mudah terjebak pada informasi yang keliru sekaligus mampu memanfaatkan teknologi secara lebih bijak. (*)









