BALITOPIK.COM, DENPASAR — Bali selama ini identik dengan pariwisata, budaya, dan gemerlap destinasi. Namun, di balik citra tersebut terdapat berbagai persoalan yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Lima mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bali mencoba mengangkat sisi lain tersebut melalui karya jurnalistik bertema “Meneropong Bali dari Sudut Berbeda” yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali.
Alih-alih sekadar mengangkat sisi positif Bali, para mahasiswa memilih isu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari pekerja malam yang berada di balik industri pariwisata, tekanan pembangunan dan sampah, persoalan lahan, dampak gempa Flores, hingga kesenjangan antara pertumbuhan pariwisata dan kebutuhan dasar warga.
Setidaknya ada lima karya yang ditetapkan sebagai karya terbaik dalam lomba jurnalistik tingkat mahasiswa yang menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-14 IWO Nasional dan HUT ke-1 IWO Bali.
Karya pertama berjudul “Bali yang Tak Pernah Tidur: Denyut Nadi Pekerja Malam di Balik Gemerlap Pulau Wisata” ditulis Ida Bagus Surya Pranas dari ITB STIKOM Bali semester III.
Karya tersebut membawa perhatian pada kelompok pekerja yang aktivitasnya justru berlangsung ketika sebagian besar wisatawan dan masyarakat mulai beristirahat. Di balik kehidupan malam Bali, terdapat pekerja yang terus bergerak dan menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata.
Persoalan lingkungan dan perubahan wajah Bali diangkat Ni Putu Hana Serena Yenita, 19 tahun, dari LSPR melalui karya “Aroma Dupa yang Terganti: Menyelamatkan Jiwa Bali dari Kepungan Beton dan Sampah”.
Karya tersebut menyoroti tekanan pembangunan dan persoalan sampah yang berhadapan langsung dengan identitas serta kehidupan masyarakat Bali.
Sementara itu, Kadek Lalita Devi dari Universitas Dhyana Pura memilih isu lahan melalui karya “Skandal Lahan BTID, Ruislag Tanpa Sertifikat, Penegak Hukum Siap”.
Isu tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pembangunan tidak hanya berkaitan dengan investasi dan pemanfaatan ruang, tetapi juga menyangkut aspek legalitas serta kepastian hukum atas lahan.
Dari Universitas Pendidikan Ganesha, Kadek Alvina Resmiani mengangkat tragedi gempa di Nusa Tenggara Timur melalui karya “Duka dari Nusa Tenggara Timur, Ketika Bumi Flotim Berguncang di Sabtu Kelabu”.
Sementara itu, isu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Bali di tengah pertumbuhan pariwisata diangkat I Gusti Agung Ayu Putri Pradnyaparamita dari Universitas Udayana melalui karya “Ketika Pariwisata Tumbuh Subur dan Tuan Rumah Tak Punya Air”.
Karya terakhir tersebut menempatkan pertumbuhan pariwisata berhadapan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Pertanyaan yang muncul bukan hanya seberapa besar pariwisata tumbuh, tetapi apakah pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan terpenuhinya kebutuhan warga yang tinggal di tengah kawasan wisata.
Kelima karya itu menunjukkan bahwa mahasiswa mulai melihat Bali tidak hanya dari sudut destinasi wisata, tetapi juga dari persoalan sosial, lingkungan, ekonomi, hukum, hingga kemanusiaan.
Ketua IWO Bali Tri Widiyanti mengatakan lomba tersebut memang dirancang bukan sekadar untuk mencari pemenang. Menurutnya, mahasiswa perlu diberi ruang untuk menyampaikan gagasan melalui karya jurnalistik sekaligus mengenalkan perspektif baru dalam melihat persoalan Bali.
“Bagi kami, lomba ini bukan semata-mata tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk memberikan apresiasi kepada para mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya karya-karya jurnalistik yang berkualitas, kritis, berimbang, dan memiliki perspektif yang lebih luas dalam melihat Bali,” kata Tri.
Menurut Tri, perubahan teknologi dan pola konsumsi informasi membuat dunia pers membutuhkan regenerasi. Mahasiswa yang mulai tertarik pada jurnalistik dinilai perlu memiliki kesempatan untuk mengasah kemampuan sekaligus memahami persoalan masyarakat melalui proses peliputan.
“Kami ingin menjadikan lomba ini sebagai salah satu pintu untuk menjaring dan mendorong regenerasi insan pers di Bali,” tegasnya.
Salah satu pemenang, Ni Putu Hana Serena Yenita, menilai kegiatan tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan dan berdialog mengenai berbagai persoalan yang terjadi di Bali.
Namun, ia memberikan catatan agar informasi mengenai kegiatan serupa ke depan dapat disebarluaskan lebih luas sehingga semakin banyak mahasiswa mengetahui dan memiliki kesempatan untuk berpartisipasi.
Kelima pemenang menerima piagam penghargaan dan uang apresiasi. Penghargaan tersebut diserahkan Ketua IWO Bali Tri Widiyanti dalam rangkaian HUT IWO di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Minggu (30/8/2026).
IWO Bali berharap, lomba tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kompetisi satu kali. Kegiatan serupa diarahkan menjadi ruang berkelanjutan untuk menemukan talenta muda yang mampu melihat persoalan daerah secara kritis dan mengolahnya menjadi karya jurnalistik yang bertanggung jawab.
Di sisi lain, lima tema yang dipilih para mahasiswa memperlihatkan bahwa wajah Bali jauh lebih kompleks daripada sekadar angka kunjungan wisatawan dan keindahan destinasi.
Ada pekerja yang menjaga roda ekonomi tetap bergerak pada malam hari, persoalan sampah dan pembangunan yang menekan ruang hidup, konflik kepentingan atas lahan, bencana di wilayah tetangga, serta kebutuhan dasar warga yang harus tetap diperhatikan ketika pariwisata terus berkembang.
Dari sudut pandang itu, karya para mahasiswa tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan pers Bali tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga keberanian melihat persoalan yang berada di balik cerita besar tentang Bali. (*)









