BALITOPIK.COM, BADUNG – Sebanyak sembilan peserta asal Kabupaten Badung ambil bagian dalam ajang Wimbakara (Lomba) Seni Lukis Wayang Klasik Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang berlangsung di pelataran Museum Taman Budaya Art Center, Denpasar, Senin (15/6/2026).
Dari sembilan peserta tersebut, dua orang merupakan duta resmi Kabupaten Badung yang mendapatkan pembinaan khusus dari Sanggar Krisnarupa, sementara tujuh peserta lainnya mengikuti lomba melalui jalur pendaftaran umum yang dibuka panitia PKB.
Ketua Sanggar Krisnarupa, Ngurah Alit Kapakisan, menjelaskan bahwa kedua duta Badung telah menjalani proses pembinaan intensif sejak Februari 2026 untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tingkat Bali tersebut.
“Persiapan dimulai dari pendalaman tema PKB tahun ini, yaitu Atma Kerthi. Setelah itu peserta berlatih membuat sketsa, memahami karakter wayang klasik, hingga teknik pewarnaan. Semua proses sudah kami maksimalkan dan semoga dapat memberikan hasil terbaik,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Menurut Alit Kapakisan, penunjukan dua peserta tersebut merupakan permintaan resmi dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung sesuai kuota yang diberikan panitia PKB.
Disbud Badung Fokus Dampingi Dua Duta Resmi
Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Made Adi Adnyana, menegaskan bahwa secara resmi Kabupaten Badung hanya mengirim dua peserta sebagai duta daerah.
Karena itu, pembinaan dan dukungan yang diberikan pemerintah daerah difokuskan kepada dua peserta tersebut, sementara tujuh peserta lainnya mengikuti lomba sebagai peserta umum.
“Badung secara resmi hanya mengirim dua duta sesuai undangan. Tujuh peserta lainnya mendaftar secara mandiri melalui link yang disediakan panitia PKB. Kami mendukung dari sisi anggaran dan fasilitasi, sedangkan proses kreatif sepenuhnya ditangani oleh sanggar,” jelasnya.
Peserta Ditantang Kuasai Pakem Wayang Klasik Bali
Sementara itu, Ketua Dewan Juri, Made Yasana, menjelaskan bahwa lomba ini diperuntukkan bagi peserta berusia 13 hingga 18 tahun, baik sebagai duta kabupaten/kota maupun peserta umum.
Peserta diwajibkan mengenakan busana adat Bali madya dan menyelesaikan karya dalam waktu 180 menit atau tiga jam.
Menurut Yasana, karya yang dilombakan harus mengacu pada seni lukis wayang klasik Bali dengan akar tradisi yang kuat, termasuk gaya Kamasan yang menjadi salah satu referensi penting dalam perkembangan seni rupa klasik Bali.
“Karya harus relevan dengan tema PKB tahun ini dan tetap berpegang pada pakem wayang klasik. Kreativitas boleh berkembang, tetapi karakter dasar tokoh tidak boleh diubah,” tegasnya.
Ia mencontohkan tokoh Bima tidak boleh digambarkan menggunakan atribut khas tokoh Kresna karena akan menghilangkan identitas karakter dalam tradisi pewayangan Bali.
“Yang bisa dikembangkan adalah unsur dekoratif, kostum, atau ornamen pendukung. Namun pakem dan karakter tokohnya harus tetap dijaga,” katanya.
Kreativitas Jadi Kunci Penilaian
Dewan juri yang terdiri dari Made Yasana, Ni Made Rinu, dan Made Bendi Yudha akan menilai karya peserta berdasarkan tiga aspek utama, yakni gagasan dan kreativitas, teknik pengerjaan, serta kesesuaian tema dan keutuhan karya.
Bobot penilaian kreativitas menjadi salah satu unsur penting dalam menentukan para pemenang.
Ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali ini menjadi salah satu wadah strategis untuk melestarikan seni rupa tradisional Bali sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan kecintaannya terhadap warisan budaya daerah.
Melalui kompetisi tersebut, diharapkan lahir regenerasi seniman muda yang mampu menjaga eksistensi seni lukis wayang klasik Bali di tengah perkembangan zaman. (*)









