BALITOPIK.COM, DENPASAR – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali Ny. Putri Koster menegaskan bahwa adat, budaya, dan tradisi Bali tidak pernah menjadi penghalang bagi perempuan untuk berkembang dan membangun usaha.
Sebaliknya, nilai-nilai budaya Bali justru memberikan ruang bagi perempuan untuk mandiri dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi.
Hal tersebut disampaikan Putri Koster saat menjadi narasumber dalam talkshow inspiratif bertajuk “Perempuan Bali Berdaya: Merajut Budaya dalam Membangun Bangsa” yang digelar di Atrium Icon Mall Sanur, Denpasar, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, perempuan Bali sejak dahulu dikenal memiliki ketangguhan dalam menjalankan berbagai peran, baik sebagai ibu rumah tangga, pendamping suami, pelaku adat, maupun perempuan yang aktif di dunia usaha dan ruang publik.
“Adat, budaya, dan tradisi Bali selalu memberikan peluang bagi perempuan untuk mandiri,” ujar Putri Koster.
Ia menekankan bahwa perempuan memiliki hak untuk terus mengembangkan potensi diri, mengejar cita-cita, serta membangun karier, termasuk menjadi womenpreneur atau wirausaha perempuan.
Namun, menurutnya, membangun usaha membutuhkan karakter yang kuat, disiplin, serta keberanian menghadapi berbagai tantangan.
“Womenpreneur harus memiliki jiwa yang kuat dan pantang menyerah. Ketika jatuh harus mampu bangkit kembali. Harus memiliki visi yang jelas, disiplin, dan terus berinovasi,” katanya.
Putri Koster menilai karakter tersebut sejatinya telah dimiliki perempuan Bali. Kemampuan mereka membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, serta kewajiban adat menjadi bukti bahwa perempuan Bali mampu menghadapi berbagai tantangan secara seimbang.
Ia pun mendorong perempuan untuk tidak ragu memulai usaha maupun mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Jangan takut, lakukan saja. Saya yakin perempuan Bali pasti bisa. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan agar tetap dapat menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus berkembang di dunia usaha,” ujarnya.
Meski demikian, Putri Koster mengingatkan bahwa keluarga tetap menjadi fondasi utama. Menurutnya, perempuan memiliki peran penting sebagai ibu dan istri yang mendampingi keluarga sekaligus mendukung tumbuh kembang anak.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkapkan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Ia menyebut sekitar 64,5 persen pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia merupakan perempuan.
“Data ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi daerah maupun nasional serta menciptakan dampak positif bagi masyarakat,” jelasnya.
Menurut Dyah Roro, Kementerian Perdagangan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha melalui berbagai program pembinaan, pendampingan, serta fasilitasi agar UMKM Indonesia semakin berkembang dan mampu bersaing.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum BPD HIPMI Bali Agung Bagus Pratiksa Linggih berharap kegiatan tersebut mampu mendorong semakin banyak perempuan Bali berani memulai usaha.
Ia menilai penguatan UMKM yang dikelola perempuan, khususnya di sektor kerajinan, tenun, kuliner, dan industri kreatif, akan menjadi motor penting dalam meningkatkan daya saing produk lokal Bali di pasar nasional maupun internasional. (*)









