BALITOPIK.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dari lebih dari 120.000 alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang telah dilahirkan sejak kampus tersebut berdiri lebih dari satu abad lalu, nama Wayan Koster resmi masuk dalam publikasi bergengsi “100 Alumni ITB Kebanggaan Almamater”.
Publikasi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada alumni yang dinilai memberikan kontribusi luar biasa bagi bangsa melalui kepemimpinan, inovasi, karya, serta pengabdian di berbagai bidang. Dari lebih dari 120 ribu alumni ITB yang tersebar di berbagai sektor strategis, hanya 100 tokoh yang dipilih karena dinilai memiliki rekam jejak dan kontribusi yang berdampak nyata bagi Indonesia.
Institut Teknologi Bandung sendiri merupakan salah satu perguruan tinggi teknik, sains, seni, dan bisnis terbaik di Indonesia. Berdiri sejak awal abad ke-20, tepatnya pada 3 Juli 1920, ITB telah melahirkan ratusan ribu pemimpin yang kini berkiprah di berbagai bidang strategis, mulai dari pemerintahan, pendidikan, teknologi, industri, energi, riset, dunia usaha, hingga sektor publik.
Masuknya nama Wayan Koster menempatkannya di kelompok sekitar 0,08 persen alumni terbaik ITB. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kiprahnya tidak hanya mendapat apresiasi di Bali, tetapi juga diakui oleh almamater yang telah melahirkan banyak pemimpin nasional, ilmuwan, akademisi, teknokrat, pengusaha, dan tokoh publik.
Dalam publikasi tersebut, Wayan Koster berada sejajar dengan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jamhur Hidayat, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, Hatta Rajasa, Basuki Hadimuljono, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Zulfan Zain, hingga sejumlah direktur utama BUMN dan perusahaan nasional.
Perjalanan Wayan Koster di ITB dimulai pada Agustus 1981 ketika diterima sebagai mahasiswa Jurusan Matematika. Selama menempuh pendidikan, Koster dikenal sebagai mahasiswa yang aktif, tidak hanya dalam kegiatan akademik tetapi juga organisasi kemahasiswaan.
Ia menjalani pendidikan di ITB sekitar 5,5 tahun. Namun secara efektif, masa kuliahnya hanya lima tahun karena selama satu semester pada 1984 ia memutuskan tidak mengambil mata kuliah. Waktu tersebut sepenuhnya dicurahkan untuk menyusun secara tuntas konsep organisasi kemahasiswaan yang kemudian dikenal sebagai Senat Mahasiswa.
Saat itu, Koster menjadi salah satu mahasiswa yang ikut merancang perubahan sistem organisasi kemahasiswaan dari Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) menuju sistem Senat Mahasiswa. Perubahan tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah kehidupan kemahasiswaan di ITB.
“Saat itu saya merancang perubahan. Saya menjadi pelaku sejarahnya dan untuk melakukan itu saya mengorbankan satu semester tidak kuliah pada 1984,” kenang Wayan Koster dalam suatu kesempatan.
Setelah kembali mengikuti perkuliahan, Koster berhasil menyelesaikan studinya dengan baik. Ia lulus sidang tugas akhir program sarjana pada Oktober 1986 dan kemudian mengikuti wisuda pada Maret 1987, sehingga resmi menyandang gelar Sarjana Matematika dari Institut Teknologi Bandung.
Usai menyelesaikan pendidikan di ITB, Koster tidak langsung terjun ke dunia politik. Ia memilih mengabdikan diri di bidang pendidikan dan penelitian. Karier profesionalnya dimulai sebagai tenaga peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Selain menjadi peneliti, Koster juga aktif sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi swasta ternama di Indonesia. Ia mengajar di STIE Perbanas, Universitas Tarumanagara, dan Universitas Pelita Harapan (UPH). Pengalaman sebagai peneliti dan akademisi tersebut membentuk karakter kepemimpinannya yang dikenal sistematis, berbasis data, rasional, dan berorientasi pada perencanaan jangka panjang.
Latar belakang akademik itulah yang kemudian menjadi salah satu ciri khas kepemimpinannya ketika memasuki dunia politik dan pemerintahan.
Karier politik Wayan Koster dimulai ketika dipercaya masyarakat Bali menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Ia terpilih selama tiga periode berturut-turut, yakni 2004–2009, 2009–2014, dan 2014–2019.
Selama 15 tahun di Senayan, Koster dikenal aktif memperjuangkan berbagai kepentingan masyarakat Bali, mulai dari pembangunan infrastruktur, pendidikan, pelestarian budaya, hingga berbagai kebijakan nasional yang berdampak terhadap pembangunan daerah.
Pengalaman panjang sebagai legislator menjadi bekal penting ketika ia memutuskan maju dalam Pemilihan Gubernur Bali.
Pada Pilkada 2018, Wayan Koster terpilih sebagai Gubernur Bali periode 2018–2023. Kepemimpinannya kemudian kembali memperoleh kepercayaan masyarakat sehingga terpilih untuk periode kedua, 2025–2030.
Selama memimpin Bali, Koster dikenal konsisten menjalankan berbagai kebijakan strategis yang berorientasi pada pembangunan jangka panjang.
Ia mendorong pembangunan infrastruktur, memperkuat ekonomi berbasis budaya, menjaga kelestarian adat dan lingkungan, mengembangkan energi baru terbarukan, mempercepat penggunaan kendaraan listrik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengembangkan kawasan rendah emisi, hingga menetapkan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun sebagai arah pembangunan berkelanjutan.
Berbagai kebijakan tersebut menjadikan Bali tidak hanya berkembang dari sisi ekonomi dan pariwisata, tetapi juga semakin dikenal sebagai daerah yang mengedepankan keseimbangan antara pembangunan, pelestarian budaya, serta perlindungan lingkungan.
Publikasi “100 Alumni ITB Kebanggaan Almamater” disusun sebagai bentuk penghormatan kepada alumni yang telah memberikan kontribusi besar bagi Indonesia di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, pendidikan, industri, teknologi, energi, hingga kewirausahaan.
Selain menampilkan profil para alumni terbaik, publikasi tersebut juga mengangkat berbagai gagasan mengenai pembangunan nasional, inovasi teknologi, pengembangan infrastruktur, serta transisi energi berkelanjutan sebagai bagian dari kontribusi alumni ITB bagi kemajuan Indonesia.
Masuknya nama Wayan Koster dalam daftar bergengsi tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan panjang yang dimulai dari seorang mahasiswa Matematika ITB, aktivis kampus, peneliti, akademisi, anggota DPR RI selama tiga periode, hingga dua kali dipercaya memimpin Bali sebagai gubernur.
Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan seorang alumni tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari konsistensi dalam berkarya, memimpin, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. (*)









