BALITOPIK.COM, DENPASAR — Beberapa jam sebelumnya, mereka berdiri tegap dalam barisan, menjaga setiap gerakan agar tetap serempak dan menjalankan tugas mengawal Sang Merah Putih dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, Senin (17/8) malam, suasananya berubah total.
Seragam dan barisan penuh disiplin berganti dengan tawa, nyanyian, tepuk tangan, hingga joget bersama. Para anggota Paskibraka Provinsi Bali yang sejak pagi menjalankan tugas dengan penuh konsentrasi akhirnya bisa menikmati malam dalam suasana yang jauh lebih santai.
Momen itu berlangsung dalam acara ramah tamah di Gedung Wanita Narigraha, Renon, Denpasar. Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta hadir mewakili Gubernur Bali Wayan Koster, bersama para anggota Paskibraka, pelatih, purna Paskibraka, guru, orang tua, serta jajaran Pemerintah Provinsi Bali.
Sebelum acara ramah tamah dimulai, mereka terlebih dahulu menyaksikan bersama siaran langsung prosesi penurunan Bendera Sang Merah Putih dari Istana Merdeka, Jakarta.
Bagi Giri Prasta, momen tersebut bukan sekadar rangkaian penutup peringatan kemerdekaan. Ada rasa haru dan bangga ketika melihat putra-putri terbaik Bali mampu menyelesaikan tugas yang telah dipersiapkan melalui latihan panjang.
Ia bahkan mengaku sempat merasa cemas ketika menyaksikan prosesi penurunan bendera. Kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi kebanggaan setelah melihat pasukan mampu mempertahankan kekompakan, stamina, serta konsentrasi hingga seluruh rangkaian berjalan lancar.
“Di situ kita merasa terharu, seolah-olah dibawa kembali, flashback ke tahun 1945. Seolah-olah kalianlah Paskibraka yang menghantarkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,” ujar Giri Prasta.
Menurutnya, penampilan yang terlihat sempurna di lapangan merupakan hasil dari proses yang tidak singkat. Ada latihan berulang, kedisiplinan, kerja keras, ketekunan pelatih, serta dukungan orang tua yang ikut menjadi bagian penting dalam perjalanan para anggota Paskibraka.
Karena itu, ia meminta pengalaman tersebut tidak berhenti ketika tugas sebagai Paskibraka selesai. Justru setelah seragam dilepas, nilai-nilai yang selama ini ditempa harus dibawa ke kehidupan sehari-hari.
Disiplin, nasionalisme, kerja keras, tanggung jawab, dan kebersamaan, kata Giri Prasta, harus menjadi modal ketika mereka melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita.
Di hadapan para anggota Paskibraka, Giri Prasta kemudian membuka cerita tentang masa mudanya. Ia mengaku sejak duduk di bangku SMP hingga SMA pernah memiliki keinginan untuk menjadi anggota Paskibraka. Bahkan, ia sempat belajar bela diri dengan harapan bisa memiliki langkah yang lebih tegap dan penampilan yang mendukung.
Namun, impian tersebut tidak pernah terwujud.
Giri Prasta mengakui saat itu ada teman-temannya yang dinilai memiliki kemampuan lebih baik untuk menjadi anggota Paskibraka.
Cerita itu membuat suasana pertemuan terasa lebih personal. Sebab, di hadapannya malam itu berdiri anak-anak muda yang berhasil mewujudkan sesuatu yang dulu hanya menjadi cita-cita masa remajanya.
Ia pun meminta para anggota Paskibraka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah mereka dapatkan.
“Dengan semangat, disiplin, dan ketekunan yang kalian miliki hari ini, perjalanan kalian masih panjang. Tetap semangat, terus belajar, dan jangan pernah menyerah. Apa pun yang kalian cita-citakan, kejarlah dengan sungguh-sungguh. Dunia ada di tangan kalian,” pesannya.
Giri Prasta menilai anggota Paskibraka merupakan bagian dari generasi muda yang kelak akan memegang peranan penting dalam menentukan masa depan Bali.
Menurutnya, menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan mencetak generasi yang unggul secara akademik. Pengetahuan harus berjalan beriringan dengan karakter, kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta nasionalisme.
Karena itu, semangat yang tumbuh selama proses seleksi dan pelatihan Paskibraka diharapkan terus dipelihara.
Pemerintah Provinsi Bali, lanjutnya, juga akan terus mendorong pengembangan generasi muda melalui berbagai kesempatan pendidikan, beasiswa, serta pengembangan kapasitas dan karier.
Ia mengatakan masa depan Bali membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap daerah dan masyarakatnya.
Berbagai tantangan Bali ke depan pun membutuhkan keterlibatan generasi muda. Mulai dari persoalan sampah, kemacetan, kebutuhan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hunian layak, hingga pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.
Generasi muda, menurut Giri Prasta, tidak boleh hanya menjadi penonton dari pembangunan tersebut.
“Kalian memiliki intelektual dan pengetahuan. Suatu saat nanti, kalian akan menjadi penentu arah Bali di masa depan,” katanya.
Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa menjadi Paskibraka bukanlah garis akhir. Justru, pengalaman tersebut merupakan salah satu langkah awal menuju perjalanan yang jauh lebih panjang.
Setelah rangkaian pesan dan sambutan selesai, suasana Gedung Wanita Narigraha perlahan berubah. Tidak ada lagi ketegangan seperti ketika mereka berada di lapangan.
Musik mulai mengalun. Lagu-lagu pop Bali hingga lagu Barat terdengar dari panggung. Giri Prasta kemudian mengajak para anggota Paskibraka dan pelatih untuk naik ke panggung.
Yang terjadi berikutnya jauh dari suasana formal.
Giri Prasta ikut bernyanyi dan berjoget bersama. Para anggota Paskibraka yang sepanjang hari tampil serius dan penuh konsentrasi pun mulai menunjukkan sisi lain mereka.
Tawa pecah. Tepuk tangan terdengar. Beberapa anggota Paskibraka ikut bergoyang bersama pelatih dan jajaran pemerintah.
Malam itu, batas antara pejabat, pelatih, dan anggota Paskibraka seolah mencair. Semua larut dalam suasana kebersamaan setelah melewati hari panjang yang penuh tanggung jawab.
Momen sederhana tersebut justru menjadi salah satu bagian paling hangat dari malam ramah tamah.
Sebab, di balik seragam, sepatu, barisan yang tegap, dan wajah penuh konsentrasi, mereka adalah anak-anak muda yang masih memiliki mimpi besar tentang masa depan.
Dan kepada merekalah estafet masa depan Bali kelak akan diserahkan.
Sebagai bentuk apresiasi, Giri Prasta menyerahkan bantuan sebesar Rp25 juta untuk seluruh anggota Paskibraka Provinsi Bali. Dua anggota Paskibraka, masing-masing satu putra dan satu putri, juga mendapatkan hadiah masing-masing Rp1 juta.
Sebelum acara berakhir, Giri Prasta kembali menitipkan pesan agar semangat yang tumbuh selama menjadi Paskibraka tidak ikut hilang ketika seragam dilepas.
“Rasa nasionalisme dan patriotisme harus terus kita tanamkan. Kita harus berusaha bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Malam pun ditutup dengan tawa dan kebersamaan.
Dari barisan yang berdiri tegap hingga joget bersama di atas panggung, malam itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang upacara dan penghormatan kepada bendera. Kemerdekaan juga tentang menyiapkan anak-anak muda agar kelak mampu berdiri tegap sebagai pemilik masa depan bangsanya, dan khususnya masa depan Bali.









