• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Foto: I Ketut Marra, I Wayan Santrayana dan I Gede Budiartha. -Balitopik.com

Dari Guru ke Seniman: Pameran “Tutur Ayu” Hadirkan Karya Penuh Nilai Budaya Bali

8 bulan ago
I Made Ariel Suardana (tengah) dan tim hukum I Made Daging lainnya di Propam Polda Bali. -BALITOPIK.COM

Ariel Suardana Minta Propam Usut Dugaan Penghalangan Laporan Made Daging

4 jam ago
Herman Umbu Billy. -BALITOPIK.COM

Umbu Billy Putera Sumba Dipercaya Jadi Dewan Pakar Gekrafs Bali

5 jam ago
Gubernur Bali dan jajajaran saat menerima dialog perwakilan mahasiswa dan buruh terkait kenaikan upah 2027. -BALITOPIK.COM

Koster Ungkap Proyeksi Upah 2027: Badung Tembus Rp4 Jutaan

10 jam ago
Gubernur Bali Wayan Koster saat menemui massa aksi di Lapangan Renon, Denpasar. -BALITOPIK.COM

Temui Buruh Tuntut UMP Bali Rp5,2 Juta, Koster Janji Akan Lakukan yang Terbaik

1 hari ago
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Badung, Drs. Anak Agung Ngurah Rai Yuda Darma. -IST

Pengangguran di Badung Turun Jadi 1,57 Persen, 601 Tenaga Kerja Terserap ke Luar Negeri

1 hari ago
Kelian Subak Puluai,Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Bangli Ketut Sirka dan pegiat antikorupsi Gede Angastia saat meninjau lokasi subak. -IST

Petani Ungkap Kejanggalan Proyek Irigasi Rp137 Miliar di Bangli

1 hari ago
Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat KMHDI, I Nengah Candra Irawana

KMHDI ingatkan lahan bekas karhutla jangan jadi perkebunan sawit oligarki

2 hari ago
PP KMHDI

Karhutla Tak Cukup Dipadamkan, PP KMHDI Bentuk Satgas Restorasi

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Dari Guru ke Seniman: Pameran “Tutur Ayu” Hadirkan Karya Penuh Nilai Budaya Bali

Reporter balitopik.com
6 Maret 2026 - 1:13 pm
Foto: I Ketut Marra, I Wayan Santrayana dan I Gede Budiartha. -Balitopik.com

Foto: I Ketut Marra, I Wayan Santrayana dan I Gede Budiartha. -Balitopik.com

Balitopik.com, DENPASAR – Kelompok seniman sekaligus pendidik yang tergabung dalam Kelompok Soko Guru menggelar pameran seni lukis bertajuk “Tutur Ayu” di Griya Santrian Art Gallery, kawasan Sanur, Denpasar, Jumat (6/3/2026).

Pameran ini menampilkan sebanyak 18 karya lukisan dari tiga perupa Bali yang juga dikenal sebagai guru seni, yakni I Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha.

Pengelola galeri, Dollar Astawa, menjelaskan bahwa ketiga seniman tersebut merupakan sosok yang telah lama berkarya di dunia seni rupa Bali sekaligus berperan sebagai pendidik bagi generasi muda.

“Ketiganya telah memasuki masa purna tugas sebagai guru, namun tetap aktif berkarya dan memberikan kontribusi melalui seni rupa,” ujarnya.

Pameran “Tutur Ayu” secara resmi dibuka oleh Putri Suastini Koster dan akan berlangsung hingga 30 April 2026.

Penulis sekaligus kurator, I Made Susanta Dwitanaya, menyebutkan bahwa pameran ini merupakan refleksi perjalanan panjang para seniman yang tidak hanya menciptakan karya seni, tetapi juga menanamkan nilai-nilai pengetahuan kepada generasi muda melalui pendidikan.

Menurutnya, dalam perjalanan pengabdian seorang guru selalu ada jejak sunyi yang jarang terlihat, namun terus hidup melalui karya dan nilai yang diwariskan.

“Pameran ini memperlihatkan bagaimana seorang guru tetap menjalankan perannya sebagai pendidik, bahkan setelah pensiun dari ruang kelas,” ujarnya.

Nama Soko Guru sendiri memiliki makna filosofis sebagai tiang penyangga utama. Dalam konteks ini, istilah tersebut melambangkan peran guru sebagai fondasi pengetahuan, penutur nilai, serta penjaga kebijaksanaan melalui karya seni.

Judul pameran “Tutur Ayu” dipilih sebagai simbol bahwa seni merupakan bahasa universal yang terus menyampaikan pesan dan nilai kehidupan.

“Tutur Ayu bermakna bahwa setiap karya membawa pesan moral dan kebijaksanaan yang relevan bagi generasi saat ini,” jelasnya.

Dalam pameran ini, masing-masing seniman menghadirkan karakter karya yang berbeda.

I Ketut Marra dikenal sebagai seniman yang konsisten mengeksplorasi berbagai medium seni, mulai dari seni lukis hingga seni grafis. Karya-karyanya menampilkan eksplorasi garis, warna, tekstur, serta komposisi yang kuat.

Tema yang diangkat banyak merepresentasikan alam serta budaya Bali. Namun karya tersebut tidak sekadar menggambarkan realitas visual, melainkan menghadirkan refleksi kritis terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali.

Sementara itu, I Wayan Santrayana menghadirkan karya dengan karakter figuratif yang mengalami deformasi bentuk. Gaya visual ini menjadi bahasa artistik yang khas dalam menggambarkan dinamika sosial dan perubahan budaya di Bali.

Melalui deformasi bentuk tersebut, Santrayana menghadirkan ekspresi yang kuat sekaligus menyampaikan pesan tentang hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, serta transformasi budaya.

Di sisi lain, I Gede Budiartha lebih menonjolkan kecenderungan abstraksi dalam karya-karyanya. Permainan komposisi warna, gestur garis, dan ekspresi visual menjadi kekuatan utama dalam lukisannya.

Meski tampak abstrak, karya Budiartha tetap menghadirkan representasi objek yang dapat dikenali. Melalui pendekatan tersebut, ia mengangkat tema-tema tentang rasa dan dinamika kehidupan manusia.

Baginya, rasa merupakan kualitas penting yang membentuk kemanusiaan seseorang selain pikiran dan jiwa.

Melalui karya-karya yang dipamerkan dalam “Tutur Ayu”, para seniman tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga ruang refleksi bagi masyarakat.

Pameran ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kebudayaan Bali terus berkembang mengikuti zaman, namun tetap berakar pada nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah arus perubahan global, pameran ini menunjukkan bahwa seni tetap menjadi medium penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.

Kini, meski telah memasuki masa pensiun sebagai pendidik formal, ketiga seniman tersebut tetap menjalankan swadarma sebagai guru bagi masyarakat.

Jika dahulu mereka mengajar di ruang kelas, kini nilai-nilai kehidupan disampaikan melalui karya seni yang lahir dari pengalaman batin yang semakin matang dan bijaksana.

Melalui pameran “Tutur Ayu”, publik tidak hanya menikmati keindahan karya seni, tetapi juga diajak merenungkan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. (*)

Tags: Budaya BaliDenpasarGaleri SeniPameran SeniSanurSeni BaliSeniman Bali
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Ariel Suardana Minta Propam Usut Dugaan Penghalangan Laporan Made Daging
  • Umbu Billy Putera Sumba Dipercaya Jadi Dewan Pakar Gekrafs Bali
  • Koster Ungkap Proyeksi Upah 2027: Badung Tembus Rp4 Jutaan
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist