• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Foto: I Ketut Marra, I Wayan Santrayana dan I Gede Budiartha. -Balitopik.com

Dari Guru ke Seniman: Pameran “Tutur Ayu” Hadirkan Karya Penuh Nilai Budaya Bali

4 bulan ago
I Ketut Sumarta

Gawang Kosong, Bola Kekosongan: Sepak Bola sebagai Jalan Sunyi Menuju Kesadaran

30 menit ago
Filosofi Salib: Mengapa Bagian Bawahnya Lebih Panjang? Foto: Rovin Bou

Filosofi Salib: Mengapa Bagian Bawahnya Lebih Panjang?

42 menit ago
Komunitas Seni Nyenit-Nyenir Banjar Sulangai tampil sebagai Duta Kabupaten Badung dalam Pergelaran Semara Pagulingan pada PKB XLVIII 2026 dengan mengangkat filosofi Wong Samar. -IST

PKB 2026 Tembus 1,8 Juta Pengunjung, Omzet IKM dan Kuliner Bali Lampaui Rp16 Miliar

2 jam ago
Gubernur Wayan Koster saat memberikan penghargaan kepada salah satu penerima Adi Sewaka Nugraha. -IST

Koster Anugerahi 12 Seniman Bali Penghargaan Adi Sewaka Nugraha, Masing-masing Terima Rp50 Juta

2 jam ago
Maria Devianita Nanggor dan Maria Devianeta Nanggor saat tampil di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Federasi Kempo Indonesia (FKI) 2026. -BALITOPIK.COM

Mahasiswi Kembar Asal NTT Sumbang 6 Medali untuk Bali di Kejurnas Kempo, 3 Emas, 2 Perak 1 Perunggu

9 jam ago
Gubernur Bali, Wayan Koster. -BALITOPIK.COM

Koster Wajibkan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Jadi Dasar Perencanaan Pembangunan Bali

17 jam ago
Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta. -BALITOPIK.COM

Giri Prasta: Masukan Fraksi DPRD Jadi Bahan Penyempurnaan APBD Demi Kesejahteraan Krama Bali

22 jam ago
Pertemuan antara Gubernur Bali Wayan Koster dengan Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi di Ruang Rapat Kertha Sabha, Jayasabha, Denpasar, Kamis (9/7/2026). -IST

Progres Bandara Letkol Wisnu dan Pelabuhan Celukan Bawang Buleleng serta Water Taxi Badung

23 jam ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Dari Guru ke Seniman: Pameran “Tutur Ayu” Hadirkan Karya Penuh Nilai Budaya Bali

Reporter balitopik.com
6 Maret 2026 - 1:13 pm
Foto: I Ketut Marra, I Wayan Santrayana dan I Gede Budiartha. -Balitopik.com

Foto: I Ketut Marra, I Wayan Santrayana dan I Gede Budiartha. -Balitopik.com

Balitopik.com, DENPASAR – Kelompok seniman sekaligus pendidik yang tergabung dalam Kelompok Soko Guru menggelar pameran seni lukis bertajuk “Tutur Ayu” di Griya Santrian Art Gallery, kawasan Sanur, Denpasar, Jumat (6/3/2026).

Pameran ini menampilkan sebanyak 18 karya lukisan dari tiga perupa Bali yang juga dikenal sebagai guru seni, yakni I Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha.

Pengelola galeri, Dollar Astawa, menjelaskan bahwa ketiga seniman tersebut merupakan sosok yang telah lama berkarya di dunia seni rupa Bali sekaligus berperan sebagai pendidik bagi generasi muda.

“Ketiganya telah memasuki masa purna tugas sebagai guru, namun tetap aktif berkarya dan memberikan kontribusi melalui seni rupa,” ujarnya.

Pameran “Tutur Ayu” secara resmi dibuka oleh Putri Suastini Koster dan akan berlangsung hingga 30 April 2026.

Penulis sekaligus kurator, I Made Susanta Dwitanaya, menyebutkan bahwa pameran ini merupakan refleksi perjalanan panjang para seniman yang tidak hanya menciptakan karya seni, tetapi juga menanamkan nilai-nilai pengetahuan kepada generasi muda melalui pendidikan.

Menurutnya, dalam perjalanan pengabdian seorang guru selalu ada jejak sunyi yang jarang terlihat, namun terus hidup melalui karya dan nilai yang diwariskan.

“Pameran ini memperlihatkan bagaimana seorang guru tetap menjalankan perannya sebagai pendidik, bahkan setelah pensiun dari ruang kelas,” ujarnya.

Nama Soko Guru sendiri memiliki makna filosofis sebagai tiang penyangga utama. Dalam konteks ini, istilah tersebut melambangkan peran guru sebagai fondasi pengetahuan, penutur nilai, serta penjaga kebijaksanaan melalui karya seni.

Judul pameran “Tutur Ayu” dipilih sebagai simbol bahwa seni merupakan bahasa universal yang terus menyampaikan pesan dan nilai kehidupan.

“Tutur Ayu bermakna bahwa setiap karya membawa pesan moral dan kebijaksanaan yang relevan bagi generasi saat ini,” jelasnya.

Dalam pameran ini, masing-masing seniman menghadirkan karakter karya yang berbeda.

I Ketut Marra dikenal sebagai seniman yang konsisten mengeksplorasi berbagai medium seni, mulai dari seni lukis hingga seni grafis. Karya-karyanya menampilkan eksplorasi garis, warna, tekstur, serta komposisi yang kuat.

Tema yang diangkat banyak merepresentasikan alam serta budaya Bali. Namun karya tersebut tidak sekadar menggambarkan realitas visual, melainkan menghadirkan refleksi kritis terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali.

Sementara itu, I Wayan Santrayana menghadirkan karya dengan karakter figuratif yang mengalami deformasi bentuk. Gaya visual ini menjadi bahasa artistik yang khas dalam menggambarkan dinamika sosial dan perubahan budaya di Bali.

Melalui deformasi bentuk tersebut, Santrayana menghadirkan ekspresi yang kuat sekaligus menyampaikan pesan tentang hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, serta transformasi budaya.

Di sisi lain, I Gede Budiartha lebih menonjolkan kecenderungan abstraksi dalam karya-karyanya. Permainan komposisi warna, gestur garis, dan ekspresi visual menjadi kekuatan utama dalam lukisannya.

Meski tampak abstrak, karya Budiartha tetap menghadirkan representasi objek yang dapat dikenali. Melalui pendekatan tersebut, ia mengangkat tema-tema tentang rasa dan dinamika kehidupan manusia.

Baginya, rasa merupakan kualitas penting yang membentuk kemanusiaan seseorang selain pikiran dan jiwa.

Melalui karya-karya yang dipamerkan dalam “Tutur Ayu”, para seniman tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga ruang refleksi bagi masyarakat.

Pameran ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kebudayaan Bali terus berkembang mengikuti zaman, namun tetap berakar pada nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah arus perubahan global, pameran ini menunjukkan bahwa seni tetap menjadi medium penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.

Kini, meski telah memasuki masa pensiun sebagai pendidik formal, ketiga seniman tersebut tetap menjalankan swadarma sebagai guru bagi masyarakat.

Jika dahulu mereka mengajar di ruang kelas, kini nilai-nilai kehidupan disampaikan melalui karya seni yang lahir dari pengalaman batin yang semakin matang dan bijaksana.

Melalui pameran “Tutur Ayu”, publik tidak hanya menikmati keindahan karya seni, tetapi juga diajak merenungkan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. (*)

Tags: Budaya BaliDenpasarGaleri SeniPameran SeniSanurSeni BaliSeniman Bali
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Gawang Kosong, Bola Kekosongan: Sepak Bola sebagai Jalan Sunyi Menuju Kesadaran
  • Filosofi Salib: Mengapa Bagian Bawahnya Lebih Panjang?
  • PKB 2026 Tembus 1,8 Juta Pengunjung, Omzet IKM dan Kuliner Bali Lampaui Rp16 Miliar
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?