BALITOPIK.COM, BALI – Gubernur Bali, Wayan Koster, mengajak keluarga Bali kembali ke tradisi 4 anak. Hal ini disampaikan dalam acara peringatan HUT ke-57 Para Gotra Sentana Dalem Tarukan (PGSDT) di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Badung, Minggu (24/5/2026).
Koster menyoroti fenomena penurunan jumlah anak dalam keluarga Bali yang kini rata-rata hanya memiliki dua anak.
Menurut Koster, kondisi ini menjadi tantangan serius bagi upaya pelestarian adat istiadat dan budaya Bali ke depan karena jumlah warga asli Bali yang semakin sedikit.
“Berkaca dari jumlah warga asli Bali yang semakin sedikit, saya ajak setiap rumah tangga kembali memilih untuk memiliki 4 anak,” tegas Koster.
Ia menjelaskan, kehadiran anak ketiga dan keempat dalam keluarga Bali bukan sekadar tradisi penamaan, melainkan fondasi menjaga populasi agar budaya Bali tetap hidup di tanah kelahirannya.
Selain isu kependudukan, Koster juga mengedepankan program strategis untuk meningkatkan kualitas SDM Bali, yakni program “1 Keluarga 1 Sarjana” yang kini mulai berjalan melalui kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Bali.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Koster menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada paiketan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan yang konsisten menjaga prinsip asah, asih, dan asuh.
“Masa depan orang Bali tidak bisa dititipkan kepada orang lain dan hanya bisa dijaga oleh krama Bali itu sendiri. Saya minta PGSDT turut mendukung pembangunan Bali dengan tetap menjaga kelestarian adat,” pesan Koster.
Ketua Umum PGSDT Pusat, I Wayan Jarta, mengungkapkan bahwa organisasinya kini memiliki ribuan anggota dengan struktur Balapraja yang tersebar di seluruh Bali.
Peringatan HUT ke-57 ini menjadi momentum refleksi untuk mengevaluasi program kerja serta memperkuat gotong royong.
“Tujuannya adalah meng-ajegkan kehidupan yang harmonis, mandiri, dan gemah ripah loh jinawi berdasarkan filosofi Tri Hita Karana,” ujar Wayan Jarta.
Acara yang dirangkaikan dengan Dharma Santi Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948 ini turut dihadiri oleh Penglingsir Klungkung Ida Dalem Semara Putra serta sejumlah tokoh adat dan pejabat daerah. (*)









