• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya saat berada di Bali. -Balitopik.com

Ketua Komisi XIII DPR RI Akui Tragedi 1998 Sebagai Pelanggaran HAM, Tapi Jangan Parno

1 tahun ago
Bank BPD Bali Jaga Tren Positif Kinerja Keuangan Sampai Dengan Triwulan III 2026 Melalui Pemberdayaan UMKM

TREN POSITIF, Kredit UMKM Bank BPD Bali Tembus Rp14,43 Triliun hingga September 2026

4 menit ago
Ilustrasi

BBM Langka di Bali, IWO Desak Dirut Pertamina Dicopot

13 jam ago
Gubernur Bali Wayan Koster saat memantau operasional di salah satu SPBU. -BALITOPIK.COM

Cek Depo Pertamina, Koster Minta Distribusi Dipacu

15 jam ago
Ketua DPC GMNI Denpasar, Wayan Hendra. -IST

BBM Langka di Bali, GMNI Denpasar Desak Pemerintah Buka Data dan Benahi Tata Kelola

17 jam ago
Pengurus PMKRI Cabang Denpasar. -BALITOPIK.COM

Masuk Hari Keempat Warga Ngantri Bensin Sampai Pingsan, PMKRI Denpasar Minta Pertamina Segera Lakukan 4 Hal

1 hari ago
Piagam penghargaan untuk BPD Bali kategori kinerja pembayaran pensiunan. -IST

Bank BPD Bali Raih Penghargaan Terbaik II Kinerja Pembayaran Pensiun dari TASPEN

2 hari ago
Antrean di salah satu pertamina di Singaraja. -BALITOPIK.COM

Bali WFH 3 Hari Akibat BBM Langka, Sekolah dan Kampus Belajar Daring

2 hari ago
Direktur YLPK Bali I Putu Armaya

Antrean BBM di Bali Berlarut, YLPK Usulkan Sistem Ganjil-Genap Jika Kondisi Darurat Berlanjut

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Ketua Komisi XIII DPR RI Akui Tragedi 1998 Sebagai Pelanggaran HAM, Tapi Jangan Parno

Reporter balitopik.com
17 Juli 2025 - 8:45 am
Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya saat berada di Bali. -Balitopik.com

Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya saat berada di Bali. -Balitopik.com

Balitopik.com, BALI – Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya menegaskan pentingnya mengakui fakta sejarah, termasuk peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi pada 1998. Menurutnya, laporan-laporan resmi seperti dari Komnas HAM dan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sudah menjadi rujukan yang valid dan tidak perlu diperdebatkan ulang secara dikotomis.

Hal tersebut disampaikan Wili saat menghadiri acara sosialisasi yang diselenggarakan (LPSK) bersama (BNPT) bertajuk “Penanganan Korban Terorisme Masa Lalu” di Prime Plaza Hotel, Kamis, 17/7/2025.

“Kalau itu terjadi, ya kita harus akui itu sebagai sebuah fakta,” ujar Wili, saat dimintai tanggapan terkait dugaan kekerasan seksual yang dialami para korban pada masa reformasi 1998. Ia menekankan pentingnya pemilihan diksi yang tepat agar tidak terjebak dalam polemik yang kontraproduktif.

Wili menjelaskan bahwa perdebatan seputar sejarah kerap kali terjebak dalam miskomunikasi dan salah tafsir. Ia mendorong agar peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsa dilihat sebagai bagian dari perjalanan kolektif yang harus dijadikan pembelajaran, bukan untuk dihindari apalagi dihapus.

“Apakah itu kejadian sebagai kolateral atau benar-benar terjadi secara spontan? Itu semua dilaporkan. Tapi mari kita membangun narasi yang lebih produktif, bukan terjebak dalam diksi dan perdebatan yang sempit,” katanya.

Terkait dengan rencana penulisan ulang sejarah 1998 oleh Mendikbud Fadli Zon, Wili menyatakan dukungannya selama proses tersebut dilakukan secara terbuka dan melibatkan berbagai pihak.

“Metodologinya harus partisipatif. Libatkan akademisi, peneliti, sejarawan. Jangan dilakukan diam-diam. Ini harus menjadi ruang demokratis. Semua bisa terlibat,” tegasnya.

Wili juga menyoroti kekhawatiran sejumlah pihak terhadap potensi penulisan sejarah yang tidak objektif. Menurutnya, objektivitas dalam sejarah bersifat relatif karena selalu terbuka terhadap berbagai penafsiran.

“Kitab suci aja banyak tafsirnya. Apalagi sejarah republik. Kenapa kita harus parno? Tinggal kawal prosesnya, pastikan transparan dan inklusif,” jelas politisi dari Fraksi NasDem ini.

Lebih lanjut, Wili menyarankan agar proses penulisan sejarah mengadopsi pendekatan seperti pembentukan undang-undang di DPR, yakni dengan membuka ruang Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

“Kalau DPR bikin undang-undang, kita undang semua stakeholder. Kenapa sejarah tidak bisa disusun dengan metodologi yang sama?” pungkasnya. (*)

Tags: Ketua Komisi XIII DPR RIKomnas HAMPelanggaran HAMPenulisan Ulang SejarahTim Gabungan Pencari FaktaTragedi 1998Willy Aditya
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • TREN POSITIF, Kredit UMKM Bank BPD Bali Tembus Rp14,43 Triliun hingga September 2026
  • BBM Langka di Bali, IWO Desak Dirut Pertamina Dicopot
  • Cek Depo Pertamina, Koster Minta Distribusi Dipacu
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist