• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya saat berada di Bali. -Balitopik.com

Ketua Komisi XIII DPR RI Akui Tragedi 1998 Sebagai Pelanggaran HAM, Tapi Jangan Parno

1 tahun ago
Tim Misi Kemanusiaan Yayasan Sungai Kasih di Flores. -IST

Yayasan Sungai Kasih Salurkan Bantuan untuk 1.000 KK Korban Gempa Flores

1 jam ago
Bupati dan wakil Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Bagus Alit Sucipta saat membuka Gebyar GENTA 2026. -IST

Home Care Badung Sudah Layani 1.885 Warga hingga Agustus

2 jam ago
Dokumen dan proyek menara telekomunikasi di Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu, Buleleng. -IST

PBG Menara Bongancina Disorot, Kuasa Hukum Temukan Kejanggalan

4 jam ago
Panitia Heritage Fun Bike saat beraudiensi dengan Wakil Wali Kota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa. -IST

Heritage Fun Bike Jadi Pemanasan Denfest 2026

5 jam ago
Gubernur Bali Wayan Koster.-BALITOPIK.COM

Hotel-Vila Marak Dijual, Koster: Pariwisata Bali Normal

21 jam ago
Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI I Nyoman. -BALITOPIK.COM

Nyoman Parta Minta Pulau Kecil Tujuan Turis Dilindungi, Dasco: Masukan Kami Terima

23 jam ago
Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PDI Perjuangan di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, I Nyoman Parta saat menyerahkan pandangan fraksi. -BALITOPIK.COM

9 Catatan Kritis PDI Perjuangan soal RUU Pengaturan Reforma Agraria

24 jam ago
Turnamen Biinmafo Volly Cup 2026. -IST

Biinmafo Volly Cup 2026 Kembali Digelar, 12 Tim Berebut Piala Bergilir

1 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Ketua Komisi XIII DPR RI Akui Tragedi 1998 Sebagai Pelanggaran HAM, Tapi Jangan Parno

Reporter balitopik.com
17 Juli 2025 - 8:45 am
Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya saat berada di Bali. -Balitopik.com

Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya saat berada di Bali. -Balitopik.com

Balitopik.com, BALI – Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya menegaskan pentingnya mengakui fakta sejarah, termasuk peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi pada 1998. Menurutnya, laporan-laporan resmi seperti dari Komnas HAM dan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sudah menjadi rujukan yang valid dan tidak perlu diperdebatkan ulang secara dikotomis.

Hal tersebut disampaikan Wili saat menghadiri acara sosialisasi yang diselenggarakan (LPSK) bersama (BNPT) bertajuk “Penanganan Korban Terorisme Masa Lalu” di Prime Plaza Hotel, Kamis, 17/7/2025.

“Kalau itu terjadi, ya kita harus akui itu sebagai sebuah fakta,” ujar Wili, saat dimintai tanggapan terkait dugaan kekerasan seksual yang dialami para korban pada masa reformasi 1998. Ia menekankan pentingnya pemilihan diksi yang tepat agar tidak terjebak dalam polemik yang kontraproduktif.

Wili menjelaskan bahwa perdebatan seputar sejarah kerap kali terjebak dalam miskomunikasi dan salah tafsir. Ia mendorong agar peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsa dilihat sebagai bagian dari perjalanan kolektif yang harus dijadikan pembelajaran, bukan untuk dihindari apalagi dihapus.

“Apakah itu kejadian sebagai kolateral atau benar-benar terjadi secara spontan? Itu semua dilaporkan. Tapi mari kita membangun narasi yang lebih produktif, bukan terjebak dalam diksi dan perdebatan yang sempit,” katanya.

Terkait dengan rencana penulisan ulang sejarah 1998 oleh Mendikbud Fadli Zon, Wili menyatakan dukungannya selama proses tersebut dilakukan secara terbuka dan melibatkan berbagai pihak.

“Metodologinya harus partisipatif. Libatkan akademisi, peneliti, sejarawan. Jangan dilakukan diam-diam. Ini harus menjadi ruang demokratis. Semua bisa terlibat,” tegasnya.

Wili juga menyoroti kekhawatiran sejumlah pihak terhadap potensi penulisan sejarah yang tidak objektif. Menurutnya, objektivitas dalam sejarah bersifat relatif karena selalu terbuka terhadap berbagai penafsiran.

“Kitab suci aja banyak tafsirnya. Apalagi sejarah republik. Kenapa kita harus parno? Tinggal kawal prosesnya, pastikan transparan dan inklusif,” jelas politisi dari Fraksi NasDem ini.

Lebih lanjut, Wili menyarankan agar proses penulisan sejarah mengadopsi pendekatan seperti pembentukan undang-undang di DPR, yakni dengan membuka ruang Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

“Kalau DPR bikin undang-undang, kita undang semua stakeholder. Kenapa sejarah tidak bisa disusun dengan metodologi yang sama?” pungkasnya. (*)

Tags: Ketua Komisi XIII DPR RIKomnas HAMPelanggaran HAMPenulisan Ulang SejarahTim Gabungan Pencari FaktaTragedi 1998Willy Aditya
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Yayasan Sungai Kasih Salurkan Bantuan untuk 1.000 KK Korban Gempa Flores
  • Home Care Badung Sudah Layani 1.885 Warga hingga Agustus
  • PBG Menara Bongancina Disorot, Kuasa Hukum Temukan Kejanggalan
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?