BALITOPIK.COM, DENPASAR – Partai Demokrat Bali mulai membaca perubahan peta pemilih menjelang Pemilu 2029. Salah satu pendiri Demokrat Bali, Ida Bagus Badra, menilai partai tidak cukup hanya memperkuat struktur, tetapi harus mampu melahirkan figur yang benar-benar memiliki basis dukungan.
Pandangan itu disampaikan Badra di sela peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat di Kantor DPD Demokrat Bali, Renon, Denpasar, Rabu (9/9/2026). Menurutnya, perjalanan panjang partai perlu menjadi bahan evaluasi untuk menentukan arah kebijakan Demokrat ke depan.
“Pengalaman ini akan memberikan satu refleksi bagi Partai Demokrat untuk menentukan arah dan kebijakan partai untuk pembangunan partai ke depan,” ujar Badra.
Ia mengatakan ukuran kebesaran partai bukan semata-mata jumlah atau kekuatan struktur organisasi. Dukungan masyarakat yang mampu dikonversi menjadi kekuatan politik di lembaga legislatif maupun eksekutif menjadi ukuran yang lebih penting.
“Untuk mencapai kebesaran Partai Demokrat, kebesaran itu diukur dari seberapa jauh partai mendapatkan dukungan, baik dukungan di legislatif maupun dukungan di eksekutif,” katanya.
Badra juga mengingatkan Demokrat agar tetap menjadi partai terbuka. Kehadiran kader baru, menurut dia, harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap kader yang lebih dahulu membangun partai.
“Partai kita partai terbuka. Kita menghormati setiap orang yang mau datang ke partai ini untuk bergabung,” ujarnya.
Tantangan lain datang dari perubahan karakter pemilih. Badra menilai pergantian generasi akan ikut mengubah peta politik pada 2029, dengan semakin besarnya peran pemilih muda dan berpendidikan.
“Pemilih ini kan silih berganti. Yang lama barangkali sudah mendahului, dan ini ada pemilih-pemilih baru,” katanya.
Menurut Badra, pemilih berpendidikan cenderung lebih kritis terhadap isu masa depan, termasuk pendidikan, lapangan kerja dan kesejahteraan. Kelompok tersebut juga dinilai dapat memengaruhi pilihan politik di lingkungan keluarga.
Ia memperkirakan proporsi kelompok pemilih muda dan berpendidikan cukup besar pada Pemilu 2029. “Kalau dilihat dari segi populasi, lebih dari 40 persen,” ungkapnya.
Karena itu, masuknya figur baru ke tubuh Demokrat juga tidak otomatis menjadi keuntungan elektoral. Partai perlu melihat apakah figur tersebut membawa basis pemilih.
Terkait sejumlah influencer muda yang bergabung dengan Demokrat di tingkat nasional, Badra mengatakan Demokrat Bali masih menunggu perkembangan internal setelah Musyawarah Daerah (Musda), termasuk proses rekrutmen kepengurusan.
“Dari recruitment itu tentu kita bisa melihat, yang bergabung ini ada elector-nya nggak?” kata Badra.
Menurutnya, figur baru akan memperbesar kekuatan Demokrat apabila memiliki dukungan nyata di masyarakat.
“Kalau ternyata ada elector-nya, pasti partai ini lebih besar,” tegasnya.
Badra menilai generasi muda cenderung menginginkan perubahan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Demokrat untuk menawarkan pilihan politik yang relevan dengan aspirasi pemilih baru menjelang 2029. (*)









