BALITOPIK.COM, BADUNG – Pemerintah Kabupaten Badung bersama DPRD Badung berkomitmen mengalokasikan 5 persen dari belanja mandatory APBD untuk pembangunan sektor pertanian. Anggaran tersebut direncanakan mulai dialokasikan pada APBD Perubahan 2027, dengan fokus pengembangan pertanian dari hulu hingga hilir.
Komitmen itu disampaikan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti saat Peringatan Hari Kopi Sedunia 2026 di Badung Agro Techno Park, Banjar Belok, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Jumat (30/10/2026).
Melalui kebijakan tersebut, Badung Utara diarahkan menjadi kawasan pusat pangan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lokal sekaligus memasok kebutuhan industri pariwisata. Pengembangan ini juga diharapkan dapat memperkuat posisi pertanian di tengah pesatnya pertumbuhan kawasan pariwisata Badung Selatan.
Adi Arnawa mengatakan, pembangunan pertanian tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan produksi. Pemerintah juga perlu menyiapkan sumber daya manusia, infrastruktur pendukung, fasilitas pengolahan, hingga kepastian pasar bagi hasil pertanian.
Dari sisi hulu, Pemkab Badung berencana merevitalisasi SMK Pertanian di Petang untuk menyiapkan generasi petani muda. Sekolah tersebut juga diharapkan memiliki fasilitas atau lahan laboratorium pengolahan hasil pertanian agar siswa tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga mampu mengolah produk dan memperoleh penghasilan.
“Termasuk menyediakan fasilitas atau lahan laboratorium pengolahan hasil pertanian bagi siswa jurusan pertanian, sehingga mereka tidak hanya belajar, tetapi juga bisa memperoleh penghasilan langsung dari hasil olahan pertanian,” kata Adi Arnawa.
Selain sumber daya manusia, ketersediaan air menjadi perhatian dalam rencana pengembangan tersebut. Adi Arnawa akan berkoordinasi dengan Dinas PUPR Badung agar alokasi anggaran 5 persen dapat diterjemahkan ke dalam master plan pembangunan infrastruktur pertanian.
Sementara dari sisi hilir, Pemkab Badung akan mengoptimalkan peran Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana sebagai off-taker atau pembeli hasil produksi petani. Skema ini diarahkan untuk memberikan kepastian pasar dan menjaga kestabilan harga komoditas unggulan Badung Utara.
Kepastian pasar tersebut juga diharapkan dapat membantu menekan alih fungsi lahan pertanian. Dengan demikian, pengembangan sektor pertanian tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memastikan hasil panen memiliki nilai ekonomi bagi petani.
Dalam kegiatan yang mengusung tema “Nikmati Kopinya, Rasakan Buahnya, Banggakan Produk Lokal” itu, Pemkab Badung turut memperkenalkan produk olahan cokelat lokal bernama Maclone Kakao Badung.
Produk tersebut dibuat dari biji kakao yang dibudidayakan di kebun demplot binaan Dinas Pertanian dan Pangan Badung. Biji kakao itu kemudian diuji coba melalui proses macloning dengan menggunakan biji kakao hasil fermentasi Ubud Raw Chocolate and Cacao.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung Anak Agung Ngurah Raka Sukadana mengatakan, peringatan Hari Kopi Sedunia menjadi momentum untuk mendorong produktivitas dan kualitas kopi lokal sekaligus memperkenalkan karakter cita rasa kopi Badung kepada masyarakat luas.
Kegiatan ini juga mempertemukan petani, pelaku industri, akademisi, dan penikmat kopi untuk memperkuat ekosistem pengembangan produk lokal. Pemkab Badung berharap pengembangan kopi dan kakao dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian daerah.









