BALITOPIK.COM, DENPASAR – Masuk Fakultas Kedokteran selama ini identik dengan biaya pendidikan yang tinggi. Namun anggapan tersebut mulai dipatahkan melalui Program Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) Pemerintah Provinsi Bali.
Tahun ini, sembilan mahasiswa penerima beasiswa tersebut berhasil menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud).
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak lagi menjadi penghalang untuk mengenyam pendidikan di program studi favorit, selama calon mahasiswa memenuhi syarat akademik dan kriteria penerima beasiswa.
Rektor Universitas Udayana, Prof. I Ketut Sudarsana, mengatakan seluruh program studi sarjana di Unud terbuka bagi penerima SKSS, termasuk Fakultas Kedokteran yang selama ini dikenal memiliki biaya pendidikan relatif tinggi.
“Semua program studi memiliki kesempatan yang sama. Yang menjadi dasar bukan program studinya, melainkan apakah mahasiswa memenuhi kriteria penerima SKSS,” ujar Sudarsana, Selasa (7/7/2026).
Kedokteran Tak Lagi Hanya untuk Kalangan Mampu
Data Universitas Udayana menunjukkan, pada pelaksanaan Program SKSS tahun sebelumnya terdapat sembilan mahasiswa yang diterima di Fakultas Kedokteran.
Jumlah tersebut menempatkan Fakultas Kedokteran sebagai salah satu program studi dengan penerima SKSS terbanyak setelah Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Teknik.
Capaian ini dinilai menjadi indikator bahwa Program SKSS tidak membatasi kesempatan mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk memilih jurusan impian, termasuk pendidikan kedokteran yang selama ini dianggap hanya dapat dijangkau oleh keluarga dengan kemampuan ekonomi tinggi.
Selain Fakultas Kedokteran, penerima SKSS juga tersebar di berbagai fakultas lainnya, seperti Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Budaya, hingga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Program Unggulan Gubernur Wayan Koster
Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) merupakan salah satu program prioritas Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster.
Melalui program tersebut, pemerintah berupaya memastikan setiap keluarga kurang mampu di Bali memiliki kesempatan melahirkan minimal satu orang sarjana sebagai modal meningkatkan kualitas hidup dan memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Pemerintah Provinsi Bali menyediakan 2.500 kuota beasiswa dengan dukungan anggaran sekitar Rp41 miliar.
Selain membiayai pendidikan, penerima SKSS juga memperoleh bantuan biaya hidup sehingga mahasiswa dapat lebih fokus menyelesaikan studinya.
Skema bantuan yang diberikan meliputi biaya pendaftaran, bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp1 juta per semester selama delapan semester, serta bantuan biaya hidup Rp1,4 juta setiap bulan bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan di Denpasar dan Badung.
Unud Tambah Kuota Menjadi 250 Mahasiswa
Sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di Bali, Universitas Udayana turut meningkatkan dukungannya terhadap program tersebut.
Pada tahun ajaran 2026, Unud memperoleh kuota 250 mahasiswa penerima SKSS, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 200 kuota.
Meski demikian, Prof. Sudarsana menegaskan seluruh calon penerima tetap harus melalui proses seleksi dan verifikasi yang ketat.
Mahasiswa wajib berasal dari keluarga kurang mampu dan belum memiliki anggota keluarga yang menyandang gelar sarjana.
“Tahun 2026 kuota yang diberikan kepada Universitas Udayana sebanyak 250 orang. Semoga bisa kami penuhi. Namun, kalau kriterianya tidak memenuhi, tentu tidak bisa dipaksakan,” katanya.
Mendorong Pemerataan Pendidikan di Bali
Menurut Sudarsana, Program SKSS menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Bali sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap perguruan tinggi.
Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut karena manfaatnya dinilai sangat besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Bali.
Dengan hadirnya mahasiswa penerima SKSS di Fakultas Kedokteran, program ini juga menunjukkan bahwa kesempatan meraih profesi dokter kini semakin terbuka bagi putra-putri Bali dari keluarga kurang mampu.
Program tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi baru tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial terhadap masyarakat Bali. (*)









