BALITOPIK.COM, BADUNG — Jalur transportasi massal baru disiapkan untuk kawasan Bali Selatan. Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyiapkan pembangunan trem listrik sepanjang 13,1 kilometer yang akan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan Legian, Seminyak hingga Canggu.
Proyek ini diarahkan untuk menjawab persoalan kepadatan lalu lintas di kawasan pariwisata Bali Selatan yang semakin membutuhkan alternatif transportasi publik.
Pembangunan jalur trem tidak dilakukan sekaligus. Proyek tersebut dibagi dalam dua fase. Fase 1A akan menghubungkan Bandara–Legian sepanjang 6,6 kilometer, sedangkan Fase 1B melanjutkan jalur dari Legian melalui Seminyak hingga Canggu sepanjang 6,5 kilometer.
Fase pertama atau Fase 1A ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV 2028. Sementara jalur lanjutan Legian–Seminyak–Canggu ditargetkan beroperasi pada kuartal I 2031.
Pengembangan trem tersebut masuk dalam inisiatif Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI). Kehadiran moda transportasi massal diharapkan dapat mengurangi tekanan kendaraan di jalan sekaligus menyediakan pilihan perjalanan bagi masyarakat dan wisatawan.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengatakan rencana tersebut masih akan memasuki sejumlah tahapan penting sebelum pembangunan fisik dilakukan. Pemerintah daerah bersama PT KAI akan menindaklanjuti kesepakatan dengan perjanjian kerja sama dan studi kelayakan.
“Trase trem perlu dikaji secara komprehensif agar tidak hanya menjadi solusi mobilitas, tetapi juga terintegrasi dengan pengembangan jaringan jalan dan kawasan pariwisata Badung,” kata Adi Arnawa.
Menurutnya, pembangunan trem harus ditempatkan sebagai bagian dari jaringan transportasi publik yang lebih luas. Karena itu, ia mendorong agar konektivitas ke depan tidak berhenti pada koridor Bandara–Canggu.
Adi Arnawa mengusulkan pengembangan jaringan yang dapat menghubungkan Nusa Dua, Uluwatu, Bandara Ngurah Rai hingga kawasan Kuta.
“Harapannya akan terbangun transportasi publik massal dalam bentuk trem sehingga menjadi pilihan masyarakat untuk berkunjung ke destinasi pariwisata sekaligus mengatasi kemacetan dan pertumbuhan kendaraan pribadi,” ujarnya.
Gubernur Bali Wayan Koster menilai persoalan kemacetan di Bali Selatan perlu segera ditangani karena dapat mempengaruhi kenyamanan masyarakat maupun keberlanjutan industri pariwisata.
Namun, ia meminta pembangunan trem tidak dilakukan dengan mengabaikan karakter Bali. Desain, trase dan operasional moda tersebut harus tetap memperhatikan kenyamanan, estetika kawasan, lingkungan serta kearifan lokal.
Koster juga meminta pemerintah melakukan sosialisasi secara masif kepada masyarakat dan pelaku usaha, terutama hotel dan akomodasi yang berada di sepanjang koridor trem.
Menurutnya, keberadaan trem harus diposisikan bukan hanya sebagai solusi kemacetan, tetapi juga peluang untuk memperkuat daya tarik kawasan pariwisata Bali.
Dari sisi teknologi, PT KAI menyiapkan trem dengan sistem berbasis baterai. Konsep ini membuat trem tidak membutuhkan kabel listrik yang membentang sepanjang jalur.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan jalur trem dirancang menggunakan sistem single track, dengan jalur ganda pada terminus dan sejumlah titik persilangan.
Sementara itu, jalur di kawasan bandara dirancang menggunakan konstruksi melayang atau elevated. Sebagian besar trase lainnya berada di permukaan tanah.
Penggunaan baterai memungkinkan pengisian daya dilakukan di lokasi tertentu, seperti depo, stasiun terminus dan titik persilangan. Sistem tersebut sekaligus ditujukan untuk menjaga kualitas visual kawasan, terutama di wilayah pesisir dan kawasan pariwisata.
Dari sisi waktu tempuh, perjalanan Bandara–Legian diperkirakan sekitar 23 menit. Sementara perjalanan dari Bandara menuju Canggu diproyeksikan sekitar 40 menit setelah seluruh jalur beroperasi.
Angka tersebut menjadi salah satu alasan transportasi trem diproyeksikan sebagai alternatif perjalanan di koridor yang selama ini sangat bergantung pada kendaraan pribadi.
Meski demikian, pembangunan trem masih menghadapi pekerjaan besar sebelum masuk tahap konstruksi. PT KAI membutuhkan dukungan pemerintah daerah terkait pembebasan lahan, penyediaan lahan depo, penguatan kawasan pesisir, akses trase menuju bandara hingga perizinan.
Trase juga masih harus melalui studi kelayakan dan kajian teknis untuk memastikan jalur yang dipilih dapat terintegrasi dengan jaringan jalan serta kawasan yang dilaluinya.
Selain itu, desain teknis membutuhkan pendampingan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan untuk memastikan pembangunan memenuhi ketentuan teknis dan keselamatan.
Dengan target operasi Fase 1A pada akhir 2028, pekerjaan proyek kini bukan sekadar menyiapkan moda trem. Pemerintah harus memastikan persoalan trase, lahan, akses bandara, integrasi jalan, kawasan pariwisata dan penerimaan masyarakat dapat diselesaikan sebelum konstruksi dimulai.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, trem listrik ini akan menjadi salah satu upaya mengubah pola mobilitas Bali Selatan. Kawasan yang selama ini sangat bergantung pada kendaraan pribadi akan memiliki alternatif transportasi massal yang dirancang rendah emisi dan terintegrasi dengan kawasan pariwisata. (*)









