• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Praktisi hukum, Kosmas Mus Guntur. -Balitopik.com

Praktisi Hukum: KUHP Baru Memperjelas Mana Kritik Mana Menghina

7 bulan ago
Pengurus HIMAK Bali saat berpose bersama Anggota DPR RI, I Nyoman Parta. -BALITOPIK.COM

HIMAK Bali Ikut Tanam Mangrove di Tanjung Benoa, Tegaskan Komitmen Jaga Kelestarian Alam

4 jam ago
Komunitas Bungawaru Bali dan GEPAB saat ikut terlibat dalam aksi tanam mangrove dan bersih-bersih. - BALITOPIK.COM

Komunitas Bungawaru Bali dan GEPAB Ikut Ambil Bagian dalam Aksi Bersih Pantai dan Tanam Mangrove

4 jam ago
Peserta penanaman mangrove yang diinisiasi oleh Nyoman Parta. -BALITOPIK.COM

Nyoman Parta Kaget Ribuan Relawan Hadir Tanam Mangrove, Padahal Hanya Diundang Lewat Medsos

7 jam ago
Gubernur Bali Wayan Koster saat mendampingi Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Menteri Kelautan dan Perikanan, serta jajaran pemerintah pusat menanam Mangrove. -BALITOPIK.COM

Pemprov Bali Bikin Program Tanam Mangrove Setiap Bulan

8 jam ago
Advokat I Made Somya Putra, SH., M.H. -IST

Kapolres Tabanan dan Baturiti Disorot Usai Amuk Massa Tewaskan Terduga Pencuri Ayam

1 hari ago
Adi Arnawa Sebut Bongkasa Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Baru Badung

Adi Arnawa Sebut Bongkasa Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Baru Badung

2 hari ago
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menerima kunjungan delegasi Shonan-Bali Friendship Association. -IST

Badung dan Fujisawa Jepang Jajaki Kerja Sama Pariwisata dan Budaya

2 hari ago
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa. -IST

Adi Arnawa Tegaskan Semua Event di Badung Wajib Patuhi Aturan

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Praktisi Hukum: KUHP Baru Memperjelas Mana Kritik Mana Menghina

Reporter balitopik.com
4 Januari 2026 - 5:14 am
Praktisi hukum, Kosmas Mus Guntur. -Balitopik.com

Praktisi hukum, Kosmas Mus Guntur. -Balitopik.com

Balitopik.com, JAKARTA — Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 resmi dimulai per tanggal 2 Januari 2026. Sejumlah ketentuan di dalamnya kembali memantik polemik publik, khususnya pasal-pasal yang mengatur tentang penghinaan terhadap pemerintah, lembaga negara, serta Presiden dan Wakil Presiden.

Praktisi hukum, Kosmas Mus Guntur, menilai polemik tersebut muncul karena masih adanya kekhawatiran bahwa kebebasan berpendapat, terutama kritik terhadap pemerintah yang berpotensi berujung pidana. Namun, ia menegaskan bahwa KUHP baru secara tegas membedakan antara kritik dan penghinaan.

“Mengkritik pemerintah tidak serta-merta dipenjara. Yang berpotensi dipidana adalah perbuatan menghina, bukan kritik konstruktif,” kata Kosmas dari Jakarta, diterima Bali Topik, Minggu, (4/1/2026).

Menurut Kosmas, pemahaman publik perlu diarahkan pada substansi pasal yang diatur, khususnya Pasal 240 dan Pasal 241 KUHP baru. Pasal 240 mengatur tentang penghinaan terhadap pemerintah atau lembaga negara, dengan ancaman pidana penjara paling lama 1 tahun 6 bulan atau pidana denda. Ancaman tersebut dapat diperberat apabila perbuatan dilakukan melalui media elektronik atau media sosial.

Sementara itu, Pasal 241 mengatur mengenai penghinaan terhadap Presiden dan/atau Wakil Presiden, dengan ancaman pidana maksimal 3 tahun 6 bulan, dan dapat meningkat hingga 4 tahun 6 bulan apabila dilakukan melalui media sosial. Kendati demikian, pasal ini secara eksplisit menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah atau jalannya pemerintahan tidak termasuk tindak pidana penghinaan.

“Pasal 241 justru memberi batas yang jelas. Kritik terhadap kebijakan adalah hal yang sah dan dilindungi konstitusi, sepanjang tidak berubah menjadi serangan terhadap kehormatan atau martabat pribadi,” jelas Kosmas.

Ia menambahkan, salah satu aspek penting dalam KUHP baru adalah sifat delik aduan pada pasal-pasal penghinaan tersebut. Artinya, proses hukum hanya dapat berjalan apabila pihak yang merasa dirugikan, baik pemerintah, lembaga negara, Presiden, atau Wakil Presiden mengajukan pengaduan secara langsung.

“Ini bukan delik biasa. Negara tidak serta-merta memproses tanpa adanya aduan. Mekanisme ini dimaksudkan sebagai pengaman agar pasal tidak digunakan secara sewenang-wenang,” ujar Kosmas.

Kosmas juga menggarisbawahi perbedaan mendasar antara kritik dan penghinaan. Kritik dimaknai sebagai penyampaian pendapat, evaluasi, atau saran yang bertujuan memperbaiki kebijakan atau kinerja pemerintah, sebagaimana dijamin dalam Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 tentang kebebasan menyatakan pendapat. Sebaliknya, penghinaan merujuk pada ungkapan yang bersifat menyerang kehormatan atau martabat, tidak berbasis fakta, mengandung kata-kata kasar, fitnah, atau bernuansa destruktif.

“Ukuran utamanya ada pada niat dan substansi. Apakah yang disampaikan itu kritik berbasis argumen, atau sekadar makian dan serangan personal,” katanya.

Polemik seputar pasal penghinaan ini juga tidak terlepas dari pengalaman masa lalu. Dalam KUHP lama, ketentuan penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden diatur dalam Pasal 134, 136 bis, dan 137, yang sempat menuai kritik luas dan kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. KUHP baru, kata Kosmas, berusaha menjawab kritik tersebut dengan memperjelas norma, mempertegas pengecualian kritik, serta menjadikannya delik aduan.

Meski demikian, Kosmas mengakui bahwa tantangan ke depan terletak pada implementasi dan penafsiran aparat penegak hukum. Ia mendorong adanya pedoman penegakan hukum yang ketat agar pasal-pasal ini tidak menimbulkan efek jera berlebihan (chilling effect) terhadap kebebasan berekspresi.

“Yang terpenting adalah konsistensi penegakan hukum. Jika pasal ini diterapkan sesuai ruhnya, maka kebebasan berpendapat tetap terlindungi, dan penghinaan yang merusak martabat institusi negara dapat dicegah,” pungkasnya.

Dengan mulai berlakunya KUHP baru pada 2 Januari 2026, publik kini menanti bagaimana pasal-pasal tersebut diterapkan dalam praktik, sekaligus berharap ruang kritik terhadap pemerintah tetap terjaga dalam koridor hukum dan demokrasi. (*)

Tags: HukumKosmas Mus GunturKUHPKUHP 2026KUHP BaruPraktisi Hukum
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • HIMAK Bali Ikut Tanam Mangrove di Tanjung Benoa, Tegaskan Komitmen Jaga Kelestarian Alam
  • Komunitas Bungawaru Bali dan GEPAB Ikut Ambil Bagian dalam Aksi Bersih Pantai dan Tanam Mangrove
  • Nyoman Parta Kaget Ribuan Relawan Hadir Tanam Mangrove, Padahal Hanya Diundang Lewat Medsos
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?