BALITOPIK.COM, DENPASAR – Aktivis antikorupsi Bali, Gede Angastia, membantah pernyataan Ketua DPD Partai Golkar Bali sekaligus anggota DPR RI, Gede Sumarjaya Linggih (GSL) alias Demer, yang mengklaim memperjuangkan pembangunan proyek shortcut Singaraja–Mengwitani pada masa pemerintahan Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
Dalam sebuah podcasd, Demer menyebut dirinyalah yang memperjuangkan shortcut Singaraja–Mengwitani yang saat ini direalisasikan Wayan Koster. Dia bilang yang paling punya nama terkait shortcut ini nantinya adalah Koster.
Angastia mengoreksi pernyataan itu, dia bilang pembangunan proyek strategis tersebut merupakan hasil perjuangan Pemerintah Provinsi Bali sejak era Gubernur Made Mangku Pastika bersama Wakil Gubernur Ketut Sudikerta, yang kemudian dilanjutkan pada masa kepemimpinan Gubernur Wayan Koster.
“Kalau berbicara soal shortcut Singaraja–Mengwitani, yang kami ingat justru Bapak Mangku Pastika bersama Bapak Ketut Sudikerta yang bolak-balik ke Jakarta memperjuangkannya sampai ke Bappenas. Saat itu juga mendapat dukungan dari Bupati Tabanan Putu Eka Wiryastuti dan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana,” kata Angastia di Denpasar, Selasa (21/7/2026).
Ia menilai proyek tersebut baru dapat direalisasikan ketika Wayan Koster menjabat sebagai Gubernur Bali. Jadi tidak elok Demer menyebut pada akhirnya Wayan Koster yang mendapat nama.
“Pak Wayan Koster melanjutkan niat baik gubernur terdahulu. Itu menjadi salah satu hadiah besar bagi masyarakat Buleleng. Beliau lebih banyak bekerja daripada berpolemik,” ujarnya.
Selain proyek shortcut, Angastia juga menyinggung pembangunan Bendungan Tamblang di Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Menurutnya, proyek tersebut juga berhasil direalisasikan hingga diresmikan Presiden Joko Widodo.
Angastia mempertanyakan kontribusi nyata Gede Sumarjaya Linggih sebagai anggota DPR RI terhadap pembangunan Bali selama menjabat di Senayan.
“Saya hanya ingin bertanya, selama lima periode menjadi anggota DPR RI, apa saja yang benar-benar diperjuangkan untuk Bali? Masyarakat tentu bisa menilai sendiri,” katanya.
Angastia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan politik tidak dijadikan alasan untuk saling menyerang di ruang publik. Menurutnya, seluruh pejabat publik seharusnya bersinergi memperjuangkan kepentingan masyarakat Bali.
“Jangan karena berbeda warna politik lalu saling menyerang. Saya justru melihat Pak Wayan Koster tidak pernah membalas pernyataan-pernyataan seperti itu. Sebagai masyarakat, saya berharap para pemimpin lebih fokus membangun Bali daripada berpolemik,” ujarnya.
Ia berharap seluruh tokoh politik di Bali mengedepankan kepentingan daerah di atas kepentingan kelompok maupun pribadi.
“Masih panjang perjalanan menuju 2029. Mari bersama-sama membangun Bali dan berinvestasi dalam karma baik demi masyarakat,” tutup Angastia. (*)









