BALITOPIK.COM, DENPASAR — Standar kompetensi chef menjadi perhatian dalam pengelolaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 30 peserta dari berbagai daerah mengikuti uji kompetensi chef di Denpasar, Bali, Sabtu (5/9/2026).
Uji kompetensi tersebut digelar Yayasan Azzahra Sehat Harmoni bersama DPW Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD Gemas) Bali. Para peserta disiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga chef di sejumlah dapur MBG di berbagai wilayah Indonesia.
Ketua DPW HMD Gemas Bali, Ir. H. Masruh S.T saat membuka pelatihan
Ketua DPW HMD Gemas Bali, Ir. H. Masruh S.T., mengatakan peningkatan kompetensi chef diperlukan karena dapur MBG menangani pengolahan makanan dalam jumlah besar sehingga membutuhkan tenaga yang memiliki kemampuan dan standar kerja yang jelas.
“Uji kompetensi ini untuk memastikan calon chef yang nantinya ditempatkan di dapur MBG memiliki kompetensi sesuai standar profesinya. Mereka tidak hanya dituntut bisa memasak, tetapi juga memahami proses pengolahan makanan dengan baik dan bertanggung jawab,” ujar Masruh.
Menurut dia, keberadaan tenaga chef yang kompeten penting untuk menjaga kualitas makanan yang diproduksi dapur MBG. Aspek pengolahan, kebersihan, hingga keamanan makanan menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.
Peserta uji kompetensi chef
“Chef memiliki tanggung jawab besar karena yang diolah dan disajikan adalah makanan untuk masyarakat dalam jumlah banyak. Karena itu, kompetensi dan profesionalisme harus menjadi perhatian,” katanya.
Para peserta mengikuti proses penilaian yang dilakukan asesor, di antaranya Chef Tikno Widodo dan Chef Endar dari LSP Barelang. Lembaga Sertifikasi Profesi tersebut merupakan salah satu LSP pihak ketiga yang bergerak di bidang pariwisata dan berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Masruh berharap peserta tidak menjadikan uji kompetensi sekadar formalitas untuk memperoleh sertifikat. Menurutnya, kemampuan yang benar-benar diterapkan saat bekerja menjadi hal yang lebih penting.
“Kami berharap seluruh peserta mengikuti proses ini dengan serius. Sertifikat penting, tetapi yang paling utama adalah kompetensinya benar-benar dimiliki dan bisa diterapkan ketika mereka bekerja di dapur MBG,” ujarnya.
Peserta uji kompetensi chef
Kebutuhan tenaga chef, lanjut Masruh, akan mengikuti perkembangan jumlah dapur MBG di berbagai daerah. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Uji kompetensi terhadap 30 peserta ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong standar profesional dalam pengelolaan dapur MBG, terutama karena makanan yang diproduksi menyasar masyarakat dalam jumlah besar,” tandasnya. (*)